Inteam Record menganjurkan #KDUContest untuk memperingati almarhum kang Aden dari edcoustic.
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan, Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? jadikan aku peneroka jiwa yang alpha.
Tuesday, February 11, 2014
Sunday, January 26, 2014
Bingkisan Rindu : Buat Ikhwah Fillah.

Ikhwah fillah, sudah lama blog ini tidak mencoret kata juga menguntaikan bicara. Kali ini saya tujukan penceritaan bingkisan kenangan buat teman-teman saya yang berada di Indonesia dimana pun mereka berada di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Jawa dan dimanapun kalian berada. Buat kalian, Asri Gunawan aktif dengan team nasyid New Kahfi (Medan), Adjie yang sedang aktif dengan team nasyid The Adam (Medan), Zulmy Erwinsyah yang aktif dengan group Sigma (Riau), Agus Santoso aktif dengan aktiviti kepartiannya PKS (Kalimantan), Muhammad Arif dan Alimansyahuri Zein yang tidak lagi mendengar kabar dan aku aku masih disini biasa-biasa sahaja. Sekali lagi, aku bukan ahli hadist. Tetapi aku ingin menyampaikan satu sabda Rasulullah yang satu ini. Ukhuwah yang kita rajut sekian lama disana mengingatkanku akan sebuah Sabda Rasul SAW :
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man)
Yah, ukhuwah ini benar-benar indah, luar biasa. Bertemu kerana Allah, berpisah kerana Allah, saling mencintai kerana Allah dan doa-doa kepada Allah begitu terasa menyentuh sanubari walaupun sang pasangan sahabat tak tahu apa yang didoakan sahabatya. Namun setiap kata yang tertulis dipesanan singkat itu membuat gementar hati, rindu akan indahnya nasihat dan pertemuan-pertemuan itu. Hanya Allah yang tahu sampai kapan dan dimana kita bertemu. Ah, indahnya sebuah ukhuwah yang benar-benar dilandasi cinta kepada-Nya. Indah, saling berbagi walau hanya dengan tanda titik dua dan kurung tutup @ :) . Namun semuanya terasa, terasa sekali.
Pernah
kudefinisikan ukhuwah hadir kerana seringnya berinteraksi, sehingga semakin
mengenal dan memahami atau kerana lapang dan dalamnya hati dalam memahami atau seorang memahami dan membantu saudaranya
dengan hati yang lapang dan ikhlas. Ternyata itu semua bukanlah ukhuwah
itu sendiri, lalu apa itu ukhuwah?
"Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana (AL ANFAL: 63)
Untuk setiap ukhuwah-ukhuwah yang telah kita bina. Ini bukan bait-bait puisi, bukan pula kisah melankolis bak kisah sinetron yang didramatisir. ini tentang kita, ukhuwah yang telah terbina. cukuplah waktu yang telah kita lalui bersama, menjadikan sebuah keterikatan hati diantara kita semakin elok saja.
Saudaraku,
banyak hal yang telah kalian ajarkan padaku. tentang cinta yang tak bersyarat,
tentang ketelatenan dan kesabaran. ketulusan hati dan keikhlasan. kalian ajari
aku apa erti kebersamaan, membina ukhuwah tanpa dalih kepentingan. terkadang
ada luka yang tersayat, tapi memaafkan menjadi pilihan kebaikan.
senyuman dan pelukan kasih sayang, yang akan terus dirindukan untuk
sebuah ukhuwah tanpa cacian apalagi sebuah ghibahan.
Untuk
episode yang bersama, menyatukan visi dan karakter yang berbeza. sungguh
pembelajaran yang luar biasa. ketika perbezaan pandangan bukan meninggikan
keegoan menjadi sebuah momentum yang menantang. ketika mencari solusi
mengutamakan kebersamaan. menjauh dari kata perpecahan.
Ku mohonkan maaf atas segala khilaf yang telah berlalu, pada setiap prasangka yang
menyakitimu. pada setiap kata yang melukai hati-hati itu. sekali lagi, maafkan
ana ya Ikhwah fillah. atas kezoliman-kezoliman yang telah berlalu. mungkin
terkadang ada cemburu yang melukaimu, mungkin ada keisengan yang
menjengkelkanmu, dan banyak kemungkinan lainnya yang menguras airmata kerana
kecewamu padaku.
Dan
kini aku semakin sedar. Waktu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. bila
sekarang kita masih bisa bersama, bertemu berjumpa, merasakan hangatnya pelukan
kasih sayang, memandang dengan penuh keteduhan. Namun kini, perpisahan itu
telah menjadi sebuah pasti. Berpisah menuju sebuah titik selanjutnya menuju gelombang kehidupan yang lebih menantang, lebih berat dan menguras kerja
fisik dan hati kita. mungkin tegur sapa hanya lewat suara, dunia maya saja,
atau pesan singkat semata. namun yang kuharapkan, jangan ragu untuk mengirim doa-doa
indahmu padaku...
Teruskan
perjuangan kalian saudaraku, jangan berhenti, meskipun berat jalan yang akan
kita lalui. tetaplah seperti sekarang saudaraku. bersama semangat dengan cita
tertinggi, bertemu dengan yang dinanti, Robbul Izzati. jangan biarkan iman
melemah, kuatkan dan bertahanlah. untuk sebuah ukhuwah yang didasarkan atas
iman, kerana islam. mungkin kita tidak sedang bersama nantinya sungguh momentum-momentum
bersama kalian tak ingin kulupakan. kini mungkin kita tak saling membersamai,
medan juang kita akan berbeza apalagi serupa, namun tujuan utama kitalah yang
membuat kita tetap beriringan, meskipun jasad tak saling berdekatan.
Tampaknya
mungkin berlebihan, namun ikhwah fillah, ingatan bersama kalian sangatlah indah. hingga
ketika kutuliskan kata demi kata inipun rindu itu sudah begitu menguat. Untuk
ukhuwah yang telah kita bina. Ya Rabb, kumohon sayangi mereka, mudahkanlah
perjuangan yang masih terasa sulit, kuatkanlah pundak yang masih merasa berat,
sempurnakanlah ikhtiar mereka, cukupkanlah segalanya.Thursday, August 1, 2013
Harga Diri Seorang Wanita
Kehidupan saya dikelilingi oleh wanita, dirumah saya
ada seorang ibu, ditempat kerja saya, hampir 90 % adalah wanita. Alangkah
mulianya menjadi wanita kerana keutamaannya melebihi darjat seorang lelaki dalam
tugasnya dan menjadi pendokong seorang lelaki.
Dua hal utama yang harus dijaga oleh seorang muslimah
adalah izzah dan iffah. Izzah adalah kehormatan perempuan sebagai seorang
muslimah. Sedangkan Iffah adalah bagaimana seorang muslimah dapat menjaga
kesucian dirinya dengan menjadikan malu sebagai pakaian mereka. Saya pernah
berdiskusi dengan seorang wanita yang menyatakan bahwa fenomena yang saat ini
sedang melingkari para masyarakat khusunya mahasiswa adalah masalah CINTA MONYET. Bahkan ada lelaki yang
dengan berani menyatakan perasaannya kepada seorang lelaki secara mudah. Padahal Ibunda kita Siti Khadijah RA, telah
mencontohkan dengan santun bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada seorang yag mulia iaitu Nabi
Muhammad yang asasnya secara tingkatnya sosial dan ekonominya lebih rendah
kedudukannya daripada Khadijah RA. Bagaimana beliau mencontohkan kepada kita
semua tentang hakikah menjaga izzah dan iffah sebagai seorang muslimah. Saya
mengungkapkan keresahan hati ini bukan kerana saya tidak tahu bagaimana rasanya
jatuh cinta. Justru kerana saya pernah jatuh cintalah maka saya ingin berbagi
rasa.
Kita ini adalah manusia, semuslimah-muslimahnya seorang muslimah tetap saja dia adalah manusia. Yang dengannya Allah anugerahi rasa cinta, benci, suka, sayang, dan lain sebagainya. Allah telah mengatur bagaimana seharusnya kita menata hati kita. Iaitu dengan mengembalikan semuanya kepada Allah dan memusatkan cinta kita hanya pada-Nya. Kuncinya, hati-hati dengan interaksi walau atas nama urusan dakwah, meski hanya melalui sms atau dunia maya. Bagi para muslimah yang mempunyai masalah dengan hati, saya mempunyai sebuah quotes yang sangat mendalam, iaitu:
"Jika engkau jatuh cinta pendamlah rasa itu dan jangan kau tampakkan. Mohonlah kepada Allah agar menjadi tenang. Jika kau mati dalam keadaan bersabar, nescaya kau akan beruntung mendapatkan syurga." (Taman Orang-Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)
Sungguh…
Seorang muslimah sejati lebih suka apabila seorang lelaki benci atau takut padanya kerana dianggap keras dan bengis wajahnya…
Dibandingkan ia harus menjadi fitnah bagi mereka akibat senyumannya…
Dibandingkan ia harus menjadi penyebab kemaksiatan di hati saudara-saudaranya akibat terlalu lembutnya
Dibandingkan ia harus menjadi penyebab futurnya mereka kerana kecerobohan dan kelalaiannya dalam menjaga izzah sebagai seorang muslimah…
"Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, janganlah Engkau
menyeksaku kerana apa yang mereka ucapkan, dan jadikanlah aku lebih baik dari
apa yang mereka perkirakan…" (Doa Saidina Ali RA)
Wednesday, July 24, 2013
Pencinta Sejati
Allah memberikan kita hadiah, didalam diri kita ada anugerah
yang tidak ternilai dari-Nya yang perlu dijaga. Ia adalah HATI. Manusia
selalu menyalahgunakan hatinya. Zalim dan lemahnya kita menggunakan hati tanpa
seizin-Nya. Bagi yang beriman hatinya selalu bahagia dan merona-rona dijingga.
Tapi yang kufur, hatinya menderita dibalik kesengsaraan. Dengki, sombong, tamak, tidak berkeyakinan diri serta rakus meratap sinar dunia.
Kenapa hati kita derita, kerana DUNIA dan isinya memenuhi
ruang hati kita. Saya pernah menyebutkan dalam beberapa siri artikel yang
lalu :
"Cukuplah dunia itu cukup sampai ditangan sahaja, jangan dimasukkan ke hati. Kerana keterseksaan seseorang itu dilihat dari seberapa banyak ia memasukkan dunia kedalam hatinya"
Jadikanlah kita
pencinta sejati kepada pencipta itulah cinta sejati. Cinta
adalah lautan tak bertepi, langit hanyalah serpihan buih belaka. Ketahuilah
langit berputar karena gelombang Cinta. Andai tak ada Cinta, Dunia akan
membeku.
Perih
Cinta inilah yang membuka tabir hasrat pencinta: Tiada penyakit yang dapat
menyamai dukacita hati ini. Cinta adalah sebuah penyakit kerana berpisah,
isyarat Dan astrolabium rahsia-rahsia Ilahi. Apakah dari cendawan langit
ataupun cendawan bumi, Cintalah yang membimbing kita ke Sana pada akhirnya.
Akal ’kan sia-sia bahkan menggelepar ’tuk menerangkan Cinta, Bagai keldai dalam
lumpur: Cinta adalah sang penerang Cinta itu sendiri. Bukankah matahari yang
menyatakan dirinya matahari? Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari ada
di sana.
CINTA yang dibangkitkan oleh
khayalan yang salah dan tidak pada tempatnya bisa saja menghantarkannya ada
keadaan ekstasi. Namun kenikmatan itu, jelas tidak seperti bercinta dengan
kekasih sebenarnya kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang. Sama dengan
dengan kita hamba sedar akan kehadiran pencipta.
Ukhuwah Kita Bukan Ukhuwah Biasa
Buat kamu yang kucintai,
Ukhuwah kita ini bukan hanya sekadar adat kehidupan memerlukan teman atau ukhuwah yang penuh dengan rayuan. Dalam uhuwah kita, ada niat yang harus diluruskan. Ada tekad yang harus dikukuhkan. Ada tanggungan amal-amal yang harus segera ditunaikan. Ada komitmen yang harus diserahkan. Ada pengorbanan yang harus disanggupkan.
Tidak sekadar mengungkapkan, "Ana uhibbukum
lillah!" (aku mencintaimu kerana Allah). Lalu kita mengharapkan manisnya ukhuwah. Ia tidak pernah semudah itu. Kerana ukhuwah ini,Bukan ukhuwah biasa-biasa, Ia adalah cemburuan para nabi dan syuhada'.
Sayangku , renungkanlah.. ada kalanya kita seperti dua mata Tak pernah berjumpa tapi selalu sejiwa Kita menatap kearah yang sama walau tak berjumpa Mengagumi pemandangan indah dan berucap: subhanallah. Wahai saudaraku, jangan pernah lepaskan tangan saudara kita yang ada di samping kita saat ini. Mari kita tunduk sejenak dan renungkan kembali kisah kita ini. Renungkan kembali perjalanan yang telah kita tempuh sejauh ini. Banyak hal yang kita lupakan di sepanjang jalan ini.
Maka jangan biarkan ukhuwah ini menjadi kusut. Kerana sesungguhnya ketika ukhuwah ini kusut, maka pertanda ada di antara kita yang imannya sedang sakit. Jangan biarkan ukhuwah ini menjadi sebuah kata yang tak akan pernah ingin mendekati kita. Kerana Sesungguhnya ukhuwah ini ibarat seuntai tasbih yang ada awalnya tapi tak berpenghujung.
Thursday, May 2, 2013
Rasa Sepunya
Saudaraku, telah lama kusandarkan ukhuwah kita pada Allah. Dengan harapan akan berpanjangan. Dengan setiap asa dan nyawa ku berdoa akan diciptakan rasa sepunya. Meskipun lalang menerbangkan benih dilarut malam namun aku berlarut-larut mencari dirimu. Dengan rasa terdalam kumohon engkau tetap tinggal diruang hatiku kini dan selamanya kerana ukhuwah kita bukan kerana nama tapi kerana ingin kekal hingga ke syurga.Tatkala engkau memeluk diriku dan mengharap sebahagian asa diriku kupindahkan padamu sesunguhnya doa-doa itu sudah lama terukir dengan tulus dengan harapan rasa sepunya tersemat dalam hatiku dan hatimu. Tatkala tanganmu menggenggam tanganku dan tangisan air matamu mengalir membasahi bahuku. Rasa sepunya lantas mengayunkan tangan memeluk dirimu dan berkata : La Tahzan, Innallaha Ma‘ana sepertimana Rasulullah S.A.W. menguatkan keyakinan Sahabatnya yang tercinta iaitu Abu Bakar R.A diruang persembunyian itu.
Aku bertatih dalam setiap langkahku, Menelusuri jalan-jalan malam ukhuwah kita, Dan menghabiskan waktu mnguis pasir dengan kaki kecil kita, Sesungguhnya saat ini aku sedang tenat, Dengan perasaan yang melankolis, Berusaha menuai makna, Tentang tangisku dan tangismu, Dalam ruang yang menyejukkan hati, Meskipun derita merajai kita.
Saudaraku… Serentak tubuhku bergetar, Mendengar keluhan dalam hatiku, Yang ingin bersenda denganmu, Satu per satu…
Seringkali…Aku melihat kegalauan kalian kita penelitian ini, Di jalan yang tak berujung bagi mata, Namun berpuncak bagi hati yang merindu syahid.
Saudaraku… Seandainya tubuhmu sedang berada di sini, Inginku peluk dengan sangat erat, Sehingga aku bisa menghapus peluhmu, Dan menata guratan wajahmu menjadi senyum.
Namun… Aku hanya bisa menjamahmu dalam doaku, Yang tidak terlalu panjang, Saudaraku… Jika kau perlu, aku ingin meminjamkan nafasku, agar kau tak lagi pengap dalam pedihnya kekecewaan Atau Kupinjamkan tanganku, Untuk mendorongmu dikala kau melemah, Bahkan mengangkatmu dari jurang keraguan, Ketika sesekali perjalanan terjal ini, Menjatuhkan hatimu dalam luka dan ragu
Demi Allah aku melihatnya, Puncak itu semakin mendekat. Aku ingin… Kita bisa bersenda gurau pada hari akhir.
Wednesday, March 13, 2013
Buat Yang Ku Rindui
Pernah rasa-rasa hangat ukhuwah itu membara dan tak tertahankan, ingin kembali merajut cinta yang tertinggalkan. Kita mula membina dan kita kadang-kadang menemui kebuntuan.
Pernah ada jeda dalam persaudaraan ini kerana sejak kita dipersaudarakan dengan iman, sejak itu juga ikatan ini akan tetap kukuh mengikat cinta di hati kita, kadang kutemukan engkau dalam doa , kadang dalam mimpi dan tak jarang dalam kenangan kebersamaan… Allah hanya ingin memberi waktu pada kita untuk saling merindu Agar persaudaraan ini semakin subur dengan ketulusan dan cinta.
Temui dan lapangan cinta dan kasih di syurga untuk kita bersama.
Tuesday, January 22, 2013
Kamu Di Mataku.
Hari ini 22 Januari 2013, kaki bertatih berjalan selepas
satu penilaian ‘mooting’ pelajar-pelajar undang-undang di kampus. Perut kosong,
jasad hanya ingin bersandar kerana lelah. Saya bersama seorang pensyarah turun
ke cafe untuk membeli makanan tengahari pada jam 3.30 petang. Selesai membeli
saya pun kembali ke tempat ‘pentas karya’ dimana saya menghabiskan kerja-kerja
saya. Tapi di pertengahan jalan saya melihat seseorang yang istimewa di mata saya
yang kini menyambung pengajian di Mesir dalam bidang perubatan sudah lama tidak bersua. Saya berlari
mengejar dan tak tertahan matapun berkaca-kaca sambil memeluk erat dan tak
ingin lepaskan. Menghabiskan masa kerana tak ingin hilang walau sesaat kerana
pada detik itu masa saat berharga dan mungkin juga dia sudah menjadi sebahagian
dari watak yang penting di dalam hidup saya. Izinkan saya berkongsi rasa itu dan
mencurahkan sedikit pandangan terhadap rasa itu.
‘Nilai Manusia Di Mata Manusia’
Jika dengar kalimat di atas, apakah yang ada diminda anda? Secara jujurnya segala ini mengenai manusia yang suka
menilai manusia lain. Tidak salah untuk menilai kerana mungkin penilaian itu
boleh membuatkan kita muhasabah diri, menilai kekurangan diri sendiri. Tapi
kebanyakan manusia yang menilai sekarang ini ialah penilaian yang mencari
kelemahan dan bukannya membina.
Jika ada salah & silap, tegurlah dengan cara
baik. Rasulullah S.A.W juga menggunakan cara yang penuh hikmah & bijaksana.
Bukankah lebih baik jika mengikut cara yang dianjurkan Rasulullah S.A.W.
Sesungguhnya Rasulullah S.A.W itulah sebaik-baik panduan.
Husnuzon (bersangka baik)
Cubalah untuk menegur dengan cara baik. Sering
diberi penekanan tentang ukhwah. Fahamkah kalian dengan apa yang dimaksudkan
dengan ‘ukhwah’? Tahukah kalian rukun-rukun ukhwah?
Kita perlu mengurangkan prasangka kerana kebanyakan
prasangka itu adalah dusta & dosa. Cubalah untuk sentiasa bersangka baik
dengan sahabat kerana manusia itu tidak sempurna, ada khilafnya. Jika kalian
merasakan kalian benar-benar hebat, pasti kalian lebih arif tentang segala
perkara asas dalam ukhwah memandangkan kalian merupakan insan-insan yang
dibekalkan dengan ilmu agama yang tinggi. Wallahu’alam~
Refleksi = Muhasabah
Amat bersyukur kerana kalian bijak menilai manusia
lain. Segalanya menunjukkan kalian prihatin akan insan sekeliling. Tapi menilai
itu biarlah dengan cara yang baik. Jangan hanya disebabkan kesalahan yang kecil
yang mampu diubah, habis segala kebaikan yang dilakukan dinafikan. Jika melihat
insan lain mempunyai kekurangan, sepatutnya kalian bersyukur kerana tidak
seperti mereka. Jika melihat insan lain itu mempunyai kelebihan, muhasabahlah
kekurangan yang ada pada diri kalian itu. Jika dilihat hamba Allah itu tidak
seperti yang diharapkan, kalian sepatutnya mendoakan perubahannya ke arah
kebaikan. Bukannya kalian mengeluarkan kata-kata seperti..
”……tapi pada
hakikatnya, habuk pun xde…..”
Apakah yang dimaksudkan dengan ‘habuk’ tersebut?
Pahala kah? Dosa kah? Istiqomah kah?
Jangan dinafikan kebaikan
Biar seteruk mana pun kesalahan seseorang itu,
jangan dinilai & dinafikan kebaikan yang dilakukannya. Yang baik tetap
baik. Yang buruk tetap buruk. 2 benda yang ketara bezanya. Jangan zalim untuk
disamakan 2 perkara tersebut. Tidak perlu dikeluarkan ayat seperti..
“…hebat
berkata-kata di fb, berdakwah..jangan berpura-pura untuk publisiti murahan..”
MasyaAllah..kata-kata ini yang sememangnya tak
layak untuk insan hebat seperti kalian keluarkan dari bibir yang sentiasa berzikir
memuji Allah, hati yang sentiasa ingat pada Allah, zahiriah yang sentiasa kuat
bermunajat pada Allah, rohaniah yang bersih dari noda.
Biarkan jika benar-benar hamba Allah itu hebat
berkata-kata di Facebook.
Sekurang-kurangnya masih ada kebaikan yang dilakukannya. Masih lagi hatinya
hidup untuk menyedarkan manusia akhir zaman kini. Mungkin jua kata-katanya itu
untuk peringatan dirinya sendiri. Sememangnya diakui kalian sememangnya
insan-insan yang hebat tapi janganlah kebaikan hamba Allah yang lain yang ingin
mengubah dirinya dinafikan. Bersyukurlah dengan apa yang kalian ada.
Berdakwah merupakan skop yang penuh ranjau.
Alhamdulillah kerana hamba Allah itu masih mahu berdakwah walaupun hanya di Facebook. Siapalah kita untuk menentukan
siapa yang berhak berdakwah atau tidak. Puas hatikah kalian jika hamba Allah
itu menyebarkan perkara lagha semata di Facebook?
Jika benar dia tidak mengamalkan apa yang
didakwahkan, itu urusan dirinya dengan Allah yang Maha Adil & Maha
Mengetahui. Dia akan dipersoalkan tentang amalan yang tidak seiring
kata-katanya. Tidak perlu kalian khuatirkan tentang itu. Sedarlah bahawa Allah
itu Maha Adil.
Publisiti murahan. Satu lagi frasa yang cukup
‘mengejutkan’ untuk disampaikan dari mulut insan-insan sehebat kalian. Tahukah
kalian apa sebenarnya yang berlaku pada hamba Allah itu? Mungkin hamba Allah
itu sedang lemah, jadi dia ingin berdakwah di Facebook sebagai peringatan & semangat untuk dirinya.
Tiada istilah publisiti murahan yang patut dikeluarkan. Mungkin hamba Allah itu
sedang berjihad. Hanya Allah yang tahu apa yang terjadi pada hamba Allah
tersebut. Belajarlah untuk memahami insan lain.
Penilaian Allah itu Adil
Manusia sama sahaja di sisi Allah cuma yang
membezakan ialah tahap keimanan & ketakwaan. Allah akan mengangkat mereka
itu beberapa darjat. Allah sahaja yang lebih tahu tentang apa yang terjadi.
Iman, semangat, kekuatan manusia itu ada turun naiknya. Semoga kita semua
sama-sama bermuhasabah diri tentang kekurangan & kelebihan masing-masing.
Banyakkan berdoa untuk orang lain bukan banyak berharap untuk orang lain
menjadi seperti apa yang kita inginkan. Masing-masing ada ‘life story’masing-masing. Banyakkan berhusnuzon.
Konklusi :
1. Husnuzon itu tanda eratnya ukhwah.
2. Menilai biarlah dengan niat muhasabah.
3. Setiap orang ada kelebihan, kekurangan. Jangan dinafikan kebaikan
yang dilakukan.
4. Penilaian Allah Maha Adil, kita belum cukup hebat untuk menilai orang
lain.
5. KEJARLAH REDHA ALLAH BIARPUN DENGAN KEMURKAAN MANUSIA, TAPI JANGAN
DIKEJAR KEREDHAAN MANUSIA DENGAN KEMURKAAN ALLAH.
6. Semoga kita sama-sama diterima di sisi yang Maha Pencipta.
Ma Fi Qalbi Ghairullah
(Dalam hatiku cukuplah ada Allah)
Segala ini sekadar perkongsian & peringatan
buat diri ini. Maaf atas segala kekurangan. Terima kasih atas segala
kesempatan. Semoga redha Allah sentiasa mengiringi kita..wallahu’alam~
Subscribe to:
Posts (Atom)




