Monday, March 5, 2012

Aku bukan Hamba Cinta

Lama tidak singgah di teratak halaman hikmah blog ku ini,

Beberapa hari ini aku menghabiskan waktu mengamati kehidupan dalam arena cinta dunia. Mahasiswa ku, sahabat-sahabat juga menghadiri pernikahan sahabat tercinta. Tak kurang juga tayangan filem dan lagu-lagu cinta dikumandangkan di corong radio... seolah-olah cinta menjadi Tuhan...namun begitu kes penceraian, penzinaan ada dimana setiap detiknya.

Saat ku cuba sirnakan waktuku bersendiri, benakku ditusuk persoalan demi persoalan, bagi yang sudah merasakan cinta atau sudah diselimuti cinta, berkali-kali aku pesankan pada diri sendiri bahwa cinta bukan TUHAN...

Saat diri anda dilawati cinta tanyakan pada hati anda adakah ia fitrah atau hiasan nafsu? lalu nilailah ia.. minta lah hidayah Allah sebagai Penyuluh di kala hanyut tengah lautan malam dan hampa jangan biarkan kau terlena terlalu lama...

Pesanku pada kalian jangan jadi hamba cinta tapi jadilah pengemudi cinta.Buat saudara, sahabat, adik-adik juga student tercinta yg selalu tersepit dlm mslh cinta, cinta itu tak pernah bersalah sehingga kita meletakkan ia ditempat yg salah, krn cinta itu fitrah dr Allah anugerah Allah dan disyurgalah bermula kisah cinta pertama manusia sehingga hadir syaitan merosakkan.. jadi yang FITRAH perlukan HIDAYAH sehingga kita kembali ke syurga dan cinta menjadi ANUGERAH semula.. jangan sia2kan cinta anda untuk sesuatu yg belum pasti...


Maka jadikan fitrah sebagai fitnah yang akan membakar dirimu sehin
gga dirimu bingung dan keliru..

"Akan menghinalah mereka yang tak mengenal cinta
Sungguh cintamu padanya wajar adanya
Mereka kata, cinta buat kau gila
Padahal kau orang paling faham agama
Ku katakan pada mereka
Mengapa kalian iri padanya?
Jawabnya
Kerana ia mencinta dan dicintai pujaan jiwa
Bila masanya Muhammad mengharamkan cinta
Dan apakah ia menghina umatnya yang jatuh cinta
Janganlah kau berlagak mulia
Dengan menyebut cinta sebagai dosa
Janganlah kau pedulikan apa kata orang tentang cinta
Entah yang berkata keras atau halus biasa
Bukankah manusia harus menetapi pilihannya
Bukankah kata tersembunyi tak bererti diam seribu bahasa"
Rasa cinta tidak salah. Yang salah jika menyuburkan cinta dengan perbuatan haram. Rasa cinta itu fitrah. Yang fitrah itu adalah sunnatullah setiap kehidupan. Rasa cinta itu lelah. Yang membuat insan hanyut dalam fikiran dan perasaan. Rasa cinta itu indah. Yang akan lebih indah dengan ikatan pernikahan. Jika telah hadir rasa cinta, berpada-padalah dengan dirimu sendiri, kerana dirimu yang mengizinkan hadirnya, bukanlah orang lain

(VIDEO)
Klik untuk Menonton video
k

Saturday, February 4, 2012

KIsah Agung Wafatnya Sang Kekasih ..


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya…


Pagi itu walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.


Pagi itu..Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah…


“Wahai umatku..kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya ku wariskan kepada kalian, Al-Quran dan Sunnahku…barangsiapa yang mencintai sunnahku, bererti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku…”


Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap para sahabatnya bersatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar, dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghelakan nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Isyarat itu telah datang, saatnya telah tiba... Rasulullah akan meninggalkan kita semua. Keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hampir selesai menunaikan tugasnya didunia.. Tanda-tanda itu semakin kuat… Ali dan Fathal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.


Di saat itu, kalau mampu,seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu...


Matahari kian tinggi, tetapi rumah Rasulullah masih tertutup rapat..tiba-tiba dari luar terdengar seseorang berseru mengucapkan salam.


“Bolehkah saya masuk?” tanyanya.?


Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.?


“Maaflah,ayahku sedang demam,”kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu.?


“Siapakah itu wahai anakku?”?


“Tak tahulah ayahku,orangnya seperti baru sekali ini aku melihatnya..”tutur Fatimah lembut.?


Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan . seolah-olah, bahagian demi bahagian wajah anaknya itu ingin dikenang.?


“Ketahuilah dialah yang menghapus kenikmatan yang sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.”?


“Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah.?


Fatimah pun menahan ledak tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan mengapa Jibrail tidak ikut sama menyertainya.?


Kemudian dipanggil Jibrail yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.?


“Jibrail, jelaskan apa hakku di hadapan Allah nanti?”Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.?


Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu.?


“Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,”kata Jibrail.?


Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.


“Engkau tidak gembira mendengar khabar ini?” Tanya Jibrail lagi.?


“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”?


“Jangan khuatir Ya Rasulullah, aku pernah mendengar Alllah berfirman kepadaku: Kuharamkan syurga kepada sesiapa sahaja kecuali umat Muhammad sudah berada di dalamnya,” kata Jibrail.?


Detik-detik semakin dekat saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.?


“Jibrail betapa sakit sakaratul maut ini” perlahan Rasulullah mengaduh.?


Fatimah terpejam, Ali yang disanpingnya menunduk semakin dalam dan Jibrail memalingkan muka.?


“Jijikkah kau memandangku, hingga kau palingkan wajahmu Jibrail? Tanya Rasulullah kepada Malaikat penghantar wahyu itu.?


“Siapakah sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibrail.?


Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahan lagi.


“Ya Allah! dasyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut kepadaku, jangan kepada umatku”?


Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya seakan bergetar membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, “Uushikuum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah solat dan peliharalah orang-orang yang lemah diantara kamu.”?


Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajah dengan tangannya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.?


“Ummati…Ummati…Ummati…”?


Dan..berakhirlah kisah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaih. Betapa cintanya Rasulullah terhadap kita. Dan cinta itu..akan kami buktikan…?

(video : klik )

Thursday, January 12, 2012

Kecantikan Sejati (Muslimat MUST read)



Kecantikan Sejati

Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust Aris Munandar


Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).


Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan. Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.


Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.


Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.


Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.


Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!


Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)


Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.


Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.


Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.


Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?


Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…


Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)

Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.

Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!


Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.


Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.



Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.


Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H

Wednesday, December 28, 2011

Musibah Itu Nikmat.

Orang yang beriman itu apabila ia mendapat nikmat-nikmat dari Allah, ia malah semakin bersyukur & merendah diri kerana menyedari hakikat kehidupan di dunia ini yang tidak kekal & fana. Ia sentiasa merasa kerdilnya diri & insaf bahawa Allah Yang Maha Memberi juga Maha Berkuasa mengambil kurniaan-Nya pada bila-bila masa yang Dia kehendaki. Kemudian pula jika ia ditimpa musibah, orang-orang mukmin itu tetap saja bersyukur, tunduk & sujud kepada Penciptanya kerana menyedari akan hakikat kehidupan di akhirat. Bersederhana dan kekal tawaduk, itulah bahagia yang membahagiakan diri (bahkan mungkin orang-orang disekeliling kita) – dalam apa jua suasana. Insya Allah.


APABILA seseorang itu tiba-tiba mendapat kesusahan, kegagalan dalam perkara tertentu atau ditimpa musibah berat dalam kehidupan, mereka menganggap Allah sudah tidak sayangkan mereka. Lebih jauh daripada itu, ada berani mengatakan Allah telah berlaku zalim kerana diberikan kesusahan.


Anggapan demikian tidak benar. Mereka tidak sepatutnya berprasangka tidak baik terhadap Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah sekali-kali menganiaya atau berlaku zalim kepada hamba-Nya.


Allah sentiasa bersifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah tetap memberi kurnia dan rahmat-Nya kepada semua umat Nabi Muhammad SAW. Firman Allah yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (Surah Yunus, ayat 44)

Firman Allah lagi yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang pun walaupun sebesar zarah.” (Surah An-Nisa’, ayat 40)

Sebenarnya jika ada kepayahan dan kegagalan berdepan dengan sesuatu perkara yang mungkin membuat kita kecewa dan putus asa, itu adalah pengajaran. Ada sesuatu yang perlu kita renungkan dan sekali gus pelajari daripada kepayahan atau kegagalan itu kerana pasti ada hikmah di sebaliknya.


Menurut Jaddal Atiff dalam tulisannya, hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh didikan langsung daripada Allah melalui ujian-Nya.


Sehubungan itu, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan seorang hamba itu berdosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu pengampunan. Sementara dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.


Musibah tidak datang begitu saja tanpa ujian. Allah menurunkan musibah (besar atau kecil) untuk menguji hamba-Nya sejauh mana mereka tabah, sabar dan reda.


Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, ada ujian untuk kesabaran, ujian untuk bersyukur, ujian untuk memberi petunjuk, ujian sebagai hukuman, ujian sebagai cubaan, ujian untuk memajukan diri dan ujian supaya mendapat pahala. Siapa yang tidak merasakan ujian atau musibah, maka dia tidak mengetahui tahap nilai dirinya.


Allah berfirman yang bermaksud:

“Dan demi sesungguhnya! Kami tetap menguji kamu (wahai orang mengaku beriman) sehingga ternyata pengetahuan Kami adanya orang yang berjuang dari kalangan kamu dan orang yang sabar (dalam menjalankan perintah Kami) dan (sehingga) Kami dapat mengesahkan (benar atau tidaknya) berita keadaan kamu.” (Surah Muhammad, ayat 31)

Pernah suatu hari, Saad bin Abi Waqash berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah yang paling berat cubaannya? Rasul menjawab: Para nabi, kemudian yang seperti mereka dan yang seperti mereka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; jika agamanya bagus di dalam lubuk hatinya, maka dia akan menjadi orang yang berat ujiannya, dan jika dalam agamanya agak tipis, maka sesuai dengan itu pula ujiannya. Begitulah ujian hidup, ia akan terus bersama seorang hamba, sehingga ketika ujian itu pergi meninggalkannya, maka dia bebas berjalan di muka bumi ini tanpa ada kesalahan lagi.” (Hadis riwayat Tirmizi)


Sementara itu, Anas meriwayatkan: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya Allah berfirman: “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan dua benda yang paling dia sayangi, lalu dia bersabar menghadapinya, maka Aku akan menggantikan keduanya dengan syurga. Yang dimaksudkan dua benda itu adalah kedua matanya.” (Hadis riwayat Bukhari)


Jelaslah Allah menimpakan musibah kepada seseorang anak Adam itu ada hikmah dan ujian-Nya. Justeru itu sesiapa yang ditimpa musibah hendaklah sabar menghadapinya.

Firman Allah yang bermaksud:

“(Sebenarnya) apa yang ada pada kamu akan habis dan hilang lenyap dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal dan sesungguhnya Kami membalas orang sabar dengan memberikan pahala lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Surah An-Nahl, ayat 96)


Oleh itu, apabila berhadapan ujian, jangan buruk sangka sebaliknya hadapinya dengan reda serta keyakinan bahawa selepas kesusahan itu akan ada kemudahan menanti. Seperti mana Lagu yang didendangkan Oleh ( Klik disini --> IN-TEAM )

Wednesday, December 7, 2011

Muhasabah : Menghampiri Kematian


satu hal yang selalu terlintas di benakku adalah telah berkurang lagi ruang gidup yang telah di beri oleh Allah untuk hamba yang banyak dosa ini. tidak terhitung berapa kesalahan yang di buat, berapa banyak janji yang di ingkari, berpa banyak hati yang kecewa dan tersakiti hanya kerana diri yang penuh dosa ini.. seperempat abad telah berlalu. selama itu juga diri ini menumpuk dosa. ibadah yang secuil selalu di banggakan, kerja kecil selalu di besar-besarkan.
tidak tau berapa nikmat yang telah di gunakan. tapi hanya sedikit yang dapat di syukuri. waktu, kesempatan, tenaga, ilmu, iman, harta. memang benar semua itu hanyalah hiasan dunia jika tidak dapat di gunakan sebagiamana semestinya..

tidakkah terpikir bahwa ruang umur itu selalu berkurang. tidakkah kita sedar bahwa dosa itu terus menumpuk. kerja dunia selalu jadi keutamaan. kesenangan dunia selalu di cari, kerja akhirat selalu di remehkan. apakah hidup ini hanya sebatas dunia ini saja?

berapa banyak yang telah memberi nasihat. tidakkan kita sedar yang kita alami setiap saat itu juga nasihat, waktu yang terus berkurang, orang-orang yang kecewa terhadap kita.

bila diri ini selalu bersyukur atas nikmat yang selalu di beri..

semoga di sisa umur ini dapat selalu bersyukur, dapat belajar untuk menepati janji. tidak membuat orang kecewa dan sakit hati atas tindakan yang dilakukan. semoga di sisa umur ini akhirat dapat mengimbangi kerja dunia.

entah berapa lama lagi waktu yang di beri.
waktu yang semakin berkurang dan dengan dosa yang semakin menumpuk,
apakah kebaikan yang di tebar telah sebanding dengan kesalahan yang telah di lakukan.

banyak yang bilang masa ini adalah yang terbaik, tapi kenapa bagiku masa ini menjadi masa yang terlalu berat untuk di lewati,,,
semoga masa yang berat ini menjadikan hasil akhir yang terbaik…

di kala waktu dan kesibukan menjadi alasan untuk tidak dekat lagi dengan semua, ketika dunia seperti tujuan akhir,
di kala itu juga jiwa ini bertambah kosong, dan semuanya seperti tiada guna….

semoga di hari ini, ketika di hari berkurangnya umur ini, dapat menjadikan jiwa ini menjadi lebih bererti dan lebih berdaya guna lagi.

semoga di hari yang akan datang dapat menjadi lebih baik lagi, dan semuanya dapat terjalani dengan lebih baik lagi
semoga di hari yang akan datang semua janji dapat di tepati lebih baik lagi, dan waktu yang berlalau dapat di maksimumkan untuk yang lebih bermanfaat lagi…

semoga di hari yang akan datang pekerjaan atau aktiviti yang di jalani mendapatkan hasil yang lebih baik lagi
semoga di hari yang akan datang dapat membuat orang tua tersenyum senang..
semoga di hari yang akan datang dapat bantu orang-orang yang di sayangi
semoga di hari yang akan datang dapat dapat mengerti dan dapat lebih sabar lagi
semoga di hari yang akan datang dapat mendapatkan rezeki yang di berkahi dan memberikan manfaat
semoga di hari yang akan datang dapat menabung untuk masa depan akhirat dengan lebih baik....

VIDEO ..::: KLIK SINI :::..

Kita akan kembali di tempat awal kita bermula


Bayangkanlah, anda melihat keranda di hadapan anda. Keranda itu dikelilingi oleh kerumunan orang yang tak lain adalah keluarga anda, saudara anda, , dan sahabat-sahabat anda. Tak lama kemudian, anda melihat beberapa orang dari kerumunan itu mendekati keranda tersebut. Tampaknya mereka hendak mengangkatnya. Sekarang bayangkanlah, yang ada di dalam keranda itu adalah anda. Anda dapat melihat dan mendengar apa yang mereka ucapkan dengan jelas. Namun anda tak dapat berbicara ataupun bergerak lagi, anda hanya dapat mendengar dan melihat!


Beberapa orang tadi pun kemudian mengangkat keranda dimana anda berada. Anda benar-benar merasakan tubuh anda terangkat bersamaan dengan diangkatnya keranda itu. Keranda itu kemudian di bawa bersama-sama. Kerumunan orang tadi turut mengiringi di belakang keranda itu dibawa. Anda melihat ibu bapa, kerabat dan sahabat-sahabat anda menunduk dengan mata dan tatapan yang sayu, seakan menahan sesuatu agar tidak mengalir dari kedua matanya.


Beberapa minit kemudian anda merasakan keranda yang membawa anda itu mulai di turunkan. Dan dari posisi anda sekarang, anda dapat melihat dengan jelas makam yang sudah di persiapkan untuk anda. Lalu, tiba-tiba peti itu terbuka. Beberapa orang mengangkat anda, dan memasukan anda kedalam makam tersebut. Dan anda masih saja melihat semua rangkaian peristiwa itu, anda masih dapat mendengar apa yang mereka ucapkan.


Tak lama kemudian, imam setempat pun maju kedepan, sepertinya ia hendak membacakan doa untuk anda. Isak tangis ibu bapa anda semakin menjadi-jadi. Air mata sahabat dan kerabat anda yang tadi masih dapat ditahan, kini tak dapat di bendung lagi. Suasana haru menyelimuti semua yang mengikuti prosesi itu. Seperti biasa, Imam mulai menyebutkan kebaikan-kebaikan yang anda lakukan semasa anda hidup dulu, kemudian mendoakan keselamatan dan ketenangan untuk anda, serta ketabahaban untuk keluarga yang anda tinggalkan. Semua yang hadir mengaminkan doa tersebut, masih dalam suasana haru. Sekali lagi, sekarang bayangkanlah... jika yang ada dalam keranda itu adalah anda, maka apa yang kira-kira akan orang katakan tentang diri anda pada saat itu? Kebaikan apa yang akan mereka kenang dari diri anda? Karya-karya dan prestasi apa yang akan mereka sebut-sebut untuk mengingat dan mengenang anda?


Saat itu kebaikan atau keburukan yang orang katakan tentang diri anda, sudah tidak dapat anda bantah lagi. Kerana anda tidak dapat berbicara, apalagi bergerak. Anda hanya dapat mendengar orang-orang itu membicarakan tentang diri anda, tentang kebaikan ataupun keburukan anda. Dan anda hanya terdiam mendengar semua itu, kerana tak ada lagi yang dapat di perbaiki. Tak ada lagi yang dapat di lengkapi, dan tak ada lagi yang dapat di benahi. Semua sudah terlambat untuk sekedar menyesali. Waktu anda sudah habis, dan tak mungkin kembali lagi.


Ini adalah sebuah renungan yang mengingatkan kita tentang erti sebuah visi. Kita hidup di dunia ini bagaikan berlayar dengan sebuah bahtera di sungai yang panjang dan bercabang-cabang. Kita di bebaskan memilih cabang sungai mana yang akan kita layari, namun yang pasti semuanya akan bertemu pada muara yang sama. Kehidupan ini juga menawarkan pilihan jalan yang banyak, dan kita dibebaskan untuk memilih jalan mana yang kita sukai. Namun, pada akhirnya kita semua akan bertemu pada samudera yang sama, iaitu alam akhirat.


Muara kehidupan adalah akhirat. Pada alam itulah kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah kita lakukan selama kita hidup di dunia. Barang siapa yang menyemai kebaikan selama di dunia, maka iapun akan menuai kebaikan di akhirat nanti.


Kerana hidup kita di dunia ini dibatasi dengan usia, maka jangan sampai kita hanya sekedar melewatinya tanpa meninggalkan apapun. Ertinya, berikan sebuah kenang-kenangan dari anda untuk dunia yang anda tinggalkan nanti. Sebuah kenang-kenangan yang dapat bermanfaat untuk orang-orang yang hidup setelah anda, apapun itu! Kerana, alangkah ruginya jika kita hidup di dunia ini kemudian meninggalkannya tanpa ada yang kita wariskan.


Jika anda bingung tentang apa sebenarnya visi hidup yang anda jalani, maka renungan diatas akan membantu anda mengenali siapa diri anda sebenarnya. Jawaban dari pertanyaan diatas akan membuat anda mengerti kemana anda harus melangkah untuk menjadi diri anda yang sebenarnya. Apa yang anda ingin orang katakan tentang diri anda ketika anda meninggal nanti, itulah visi anda!