Monday, October 24, 2011

Rasa Yang Tertunda


kosong begitulah hatiku saat ini tak ada dia kamu atau mereka namun , ada segumpal hati yang kian tak mengerti dengan tangisan malam yang selalu menyertai Ku simpan penantian panjang Dengan segala kenyataan Luka yang tergores, datangkan sejuta pilu. Perih yang mengiris hadirkan tangisan rindu.. Tangisku, tangisan seribu rindu. Rintihku, rintihan penuh syahdu.. aku ingin terbang terbang dengan sayap indahku membelah langit biru menerobos angin haru demi mendapatkan cahaya suci untuk damai dalam hati kan ku simpan rinduku hingga kau datang menjemputku kerana hatiku tlah kosong kerana rindu yang tertunda

Wednesday, September 21, 2011

Sendiri Menyepi ?


Sendiri Menyepi
tenggelam dalam renungan
ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan

perlahan kucari… mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah… mungkin ku tersesat…
mungkin dan mungkin lagi…

Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi
ingin ku menangis… menyesali diri… mengapa terjadi

sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala

benderang di hidupku

Perlahan kucari… mengapa diriku hampa
mungkin ada salah mungkin ku tersesat…
mungkin dan mungkin lagi

Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi…
ingin ku menangis… menyesali diri… mengapa terjadi

sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala

Oh Tuhan aku merasaaaaaaaa……
seeeeendiri…aku merasa sendiri

sampai kapan begini
resah tiada bertepi…Ooohh
kuingin cahyaMu

benderang di hidupku

by : EDCOUSTIC


Setitis air ikut mengalir dari sebuah paip/slang air di tangan seorang tukang kebun. Ia merasa dirinya seperti kekuatan raksasa yang mampu mematahkan ranting ringkih dan dedaunan kering di kebun yang gersang, kerana musim kemarau yang sangat panjang.


Tetapi, setelah paip/slang itu terserak kembali sendiri dan menempel di sehelai daun mawar yang masih menghijau. Sebutir air itu menjadi oase kecil yang amat cantik di mata seorang pelukis yang sedang memindahkan keindahan mawar itu ke atas kanvasnya yang dipesan oleh istana untuk dihadiahkan kepada tamu negara. Dan butir air itu pun terpindahkan gambarnya menjadi puncak pesona di dalam sebuah lukisan yang membuat semua orang takjub kepada kemolekannya.


Sampai akhirnya, titisan air itu merasa dirinya melayang-layang oleh bahagia. Kerana meskipun hanya setitis dan tidak lagi terkumpul sebagai sebuah kekuatan ia masih bisa memberikan erti. Lalu, butir air itu berpikir bahwa seandainya ia tidak terpercik sendirian ke atas dedaunan, tetapi tetap berkumpul dalam sebuah kungangan air, ia mungkin hanya menjadi tempat tetas nyamuk berdarah. Jadi, alhamdulillah kesendirian punya erti yang tak kecil bila disyukuri.

Wednesday, September 14, 2011

Ujian Itu Mutiara Jiwa


Hidup ini memang menyulitkan. Setiap hari jiwa kita akan teruji dan perjalanan hidup terasa semakin hari semakin sukar. Inilah kehidupan, "Dialah (Allah) yang menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah diantara kamu yang paling baik amalannya.".

Ya, hidup ini adalah ujian. Menafikan hakikat ini akan menjadikan kita orang yang sentiasa kecewa dan putus asa. Menerima hakikat ini menggambarkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang menonjolkan kepimpinan dan ketokohan kita sebagai hamba Allah SWT.

Sememangnya kegagalan itu sering mencederakan jiwa kita. Hati kita terluka dan meninggalkan bekas terlalu lama. Bahkan ada ketikanya, ujian hidup yang dilalui terasa begitu berat dan diluar kemampuan hingga kita kehilangan pendirian dan arah tuju.

Ujian itu umpama ombak ganas yang tidak pernah mungkir untuk menerjahkan kekuatannya pada pantai yang lembut dan tidak berdaya. Namun lebih sulit lagi kedatangan ujian ini dalam bentuk yang sentiasa berubah dan dalam masa yang tidak menentu. Jiwa kita tidak akan tenang sehinggalah kita menerima lumrah kehidupan ini dengan jiwa yang pasrah dan sabar. Namun kepasrahan dan kesabaran itu tidak akan muncul hinggalah kita benar-benar menyandarkan seluruh jiwa dan harapan kita pada Pemilik kehidupan, Pemilik jiwa dan Pemilik alam yang menentukan rintangan dan perjalanan hidup kita segalanya. Kita tidak akan merasakan ketenangan sehinggalah kita benar-benar merasai hakikat kehambaan diri serta kekuasaan Ilahi.

Salah persandaran akan menjadikan kita manusia kecewa dengan segala kelemahan dan keputus asaan. Namun memilih persandaran yang betul memerlukan ilmu yang benar dan proses memahami dan mengenali hidup dan kehidupan yang sedang kita tempuhi.

Friday, July 8, 2011

Mencintai Dalam Diam

Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..

Maka dengarlah..
Gadis, saat ku jatuh cinta,
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan..
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..

Aku tahu..
Cinta adalah fitrah, sebuah anugerah tak terperih..
Kerana cinta adalah kehidupan..
Kerana cinta adalah cahaya..
Aku tahu..
Hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gelita..
Namun..
Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn tenang..
Kerana rasa itu ibarat belenggu pelangi, dgn begitu banyak warna..
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang mbuat mu menderita..
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula..

Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir..
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku..
Maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita..
Maka gadis,
Agar kau dapat keluar dari belenggu itu..
Dan melaluinya dengan tenang..
Maka mencintailah dalam hening..
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari..

Namun juga, jangan kau berlebihan dalam mencintai..
Jangan kau umbar rasamu..
Jangan kau serahkan segala sukamu..
Cubalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir, bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas..
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yang mengaturnya..
Dan yakinlah di tangan-Nya semua yang baik-baik saja..
Cubalah renungkan..
Dia yang kau cintai, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan kau tangisi ketika malam..
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

Gadis,
Kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..

Maka..
Ku ingatkan padamu, tidakkah malu jika smua rasa telah kau umbar..
Namun ternyata kelak bukan kau yang dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Gadis,
Kerana cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk ditumpahkan..
Dan sedarilah gadis..
Fitrah kita wanita pemalu..
Dan kau indah kerana sifat malumu..
Lalu,
Masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah dinafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..

Duhai gadis..
Jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yang telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Luh al-Mahfuz..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dalam hening..
Agar jika memang bukan dia yang ditakdirkan untukkmu..
Maka cukupalah Allah dan kau yang tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka ku beritahukan padamu..
Pegang kendali hatimu, jangan kau lepaskan..
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..

Gadis..
Yang kau perlukan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka peganglah kendali hatimu..
Lalu, arahkan pada-Nya..
Dan cintailah dlm diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih baik..
Jauh lebih suci..

Kerana ALLAH aku Menunggumu

Ini bukan sekadar kata-kata agar kamu jatuh hati padaku, namun ini
adalah kejujuranku. Mengapa aku berkata seperti ini? Kerana aku menyukai
orang-orang yang mencintaiNya. ... yang mencintai RasulNya... dan denganmu...
kuharap keteguhanmu akan dapat mengajakku untuk semakin mencintaiNya. ..

Aku merindukanmu kerana Allah

Ini bukan untaian rahsia dalam hatiku untuk memikatmu. Mengapa aku
berkata seperti ini? kerana aku tahu... mengucapkan ikrar suci itu
menyempurnakan hidupku. Dan... Pernikahan adalah sunnah Rasullullah dan
Rasulullah adalah kekasih Allah. Cinta adalah anugerahNya yang ditumbuhkan
di hati orang-orang yang dikehendakiNya. Bagaimana aku tidak merindukan
kehadiranmu wahai kekasih.... to come in my life ???

Aku menunggumu kerana Allah..
ni bukan rajutan perasaan untuk sebuah penantian.
Mengapa aku berkata
seperti ini? Kerana aku tahu, diriku terlalu banyak kekurangan.. . dan
kerananya... aku memerlukan seseorang yang lebih halus untuk menaklukkan hatiku
yang tegas untuk menguatkan hatiku yang lemah dengan izinNya...

Aku tahu... terlalu banyak yang harus aku perbaiki... kerananya, aku menunggumu untuk menjadi pendamping hidupku...... untuk lebih mengajarku dengan
sabar hingga keni'matan imanku terhadapNya semakin dalam dengan
izinNya.... di setiap harinya... untuk selama-lamanya .. Amin...

Aku tahu, dalam hatiku... aku tak ingin hidup sendiri, kerananya, aku
berharap... Allah menganugerahkan padaku seorang teman untuk berkongsi
banyak hal dan menerima apa adanya diriku beserta keluargaku.. .
Kekasih... bila Engkau benar-benar ada dalam hidupku... semoga Allah
memantapkan hati kita dan mendekatkan kita di jalan yang lebih Ia Redhai
Amin...

Aku mencintaimu kerana Allah... aku merindukanmu kerana Allah dan aku
menunggumu kerana Allah... di raga manakah jiwamu bersemayam?? ?

Dari sini aku menatap jejakmu dengan raga yang menari bersama angin...
di antara gemuruh ombak kerinduanku
Rasakan getarku... yang membiarkan selarik bintang menemanimu serta untuk
menjemputku. ..
meski mungkin tak ada peta yang bisa dirimu genggam... izinkan bisik hatiku
sebagai petunjuk arahmu dengan izinNya...
Ya Rabbi... redamkanlah rinduku di jalan yang terbaik menurut Engkau untuk
dunia dan akhiratku.. Amin.... Bila kerabat dan teman tak lagi cukup untuk
menemani kehidupanku. .. maka hari itu adalah yang aku tunggu... apakah
dia, jawaban itu???

Kekasih.... .......
.

Tuesday, April 26, 2011

Kaca Yang Berdebu

Mari Bersama Hayati Senandung ini



Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

Saturday, April 23, 2011

Mari Memahami Cinta Sebenarnya..


Bismillah….

Cinta…

Sesuatu yang tak terdefinisi…

Kadang tak dapat dimengerti…

Tapi mampu membuat bibir seakan tak mau berhenti tersenyum…

Saudaraku…

Apa yang akan kita lakukan ketika cinta datang mengetuk hati kita? Akan ada dua sikap dalam menerima hadirnya cinta.

Pertama, jika cinta itu telah halal, maka tentu akan kita sambut dengan senyuman terindah dan memperlakukannya dengan penuh istimewa. Bagi yang memahami, cinta yang halal hanyalah cinta yang terajut ketika telah terikat dalam sebuah akad pernikahan. Selain daripada itu, maka cinta tak akan pernah di izinkan untuk masuk ke dalam hati dan bersemayam disana.

Kedua, jika cinta itu belum halal, maka dengan santun, kita akan mempersilakan cinta itu untuk bersabar sebelum masuk dan bersemayam di hati kita. Kerana cinta yang belum halal tak akan pernah mendapat ridho dari Allah. Bukankah Allah itu maha pencemburu? Bagi yang tidak mengerti, cinta seperti ini justru akan disambut dengan bahagia hingga akhirnya melupakan batasan-batasan yang sudah ditentukan oleh Allah berkenaan dengan perkara hati. Bukankah cinta seperti ini ertinya sudah bercampur dengan nafsu? Dan bukankah nafsu itu datangnya dari syaitan?

Ada sebuah pertanyaan menarik, bolehkah kita sekedar mengungkapkan cinta demi untuk menenangkan hati kerana tak mampu menahan rasa?

Kembali kita belajar pada cerita cinta Fatimah putri Rasulullah dan Ali bin Abu Thalib. Mereka pun jatuh cinta jauh sebelum akhirnya menikah. Namun, ditengah kegelisahan hati para pencinta, adakah mereka pernah mengungkapkan rasa itu satu sama lain? Tidak, mereka diam. Dalam diam mereka mencinta, dalam rindu mereka berdoa. Hanya kepada Allah mereka ungkapkan semua rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Pun dengan para shalafush shalih ketika mereka di uji dengan cinta oleh Allah. Adapun mereka mengungkapkan cinta, tapi disertai dengan niat untuk menghalalkan cinta itu, jadi bukan sekedar ungkapan biasa tanpa tindakan, atau ada tindakan tapi melanggar syariat. Jika ternyata cinta dan niat mereka ditolak, maka hanya kesabaran yang dapat dilakukan, kerana mengetahui bahwa rencana Allah akan selalu lebih baik.

Kemudian pertanyaan lain, jika sudah dalam masa khitbah misalnya, apakah boleh ungkapan cinta itu disampaikan?

Dalam sirah, hingga detik ini saya belum menemukan adanya contoh, mungkin kerana ilmu ana masih dhoif (atau jika ada yang tahu, tolong beritahu , ^_^ ). Yang jelas, dalam masa khitbah memang adalah masa memantapkan hati, masa lebih saling mengenal pasangan, mulai dari latar belakang, kepribadian hingga keluarga besarnya. Tetapi tetap dalam koridor syariat (saya jadi ingat sebuah cerita bagus ketika hampir masa khitbah, si ikhwan yang tidak bisa menjaga komunikasi dengan akhwat, akhirnya ditolak oleh akhwatnya). Masa khitbah bukanlah masa untuk mengumbar perasaan, maka bersabarlah hingga waktu itu tiba dan berpuaslah jika sudah sah terikat dalam janji pernikahan.

Maka saudaraku, mengumbar perasaan cinta diluar pernikahan adalah sesuatu yang tidak dibenarkan dalam Islam. Seperti yang tertera dalam firman Allah :

“Dan janganlah kamu mendekati zina…” QS Al Isra 32

Mata yang memandang bukan mahram adalam zina mata, telinga yang mendengar rayuan dari bukan mahram adalah zina pendengaran, mulut yang berbicara cinta pada bukan mahramnya adalah zina mulut, sedang hati yang membayangkan sesuatu yang bukan haknya dan tidak halal adalah zina hati.

Satu-satunya solusi bagi para pencinta adalah pernikahan. Diluar daripada itu, maka bersabarlah akan cinta itu, jangan diumbar dan jangan pula diusir jika kita tidak mampu. Tapi berdoalah kepada Allah agar cinta itu tak membuat hati kita lalai dari mencintaiNya. Ungkapan cinta sebelum waktunya tak akan bernilai apa-apa selain dosa, tetapi jika dilakukan dalam pernikahan maka akan bernilai ibadah yang luar biasa.

Maka itu saudaraku, jangan mudah mengumbar kata cinta dengan maksud ataupun hanya sekedar bercanda. Tiap kata-kata kita akan menjadi catatan tersendiri oleh malaikat dan di sisi Allah. Bukankah dalam alqur’an kita diperintahkan hanya berkata-kata yang baik? Sesuatu yang bercanda pun ada batasannya, kerana perkara hati itu sangat mudah terbuka dan akan sulit diselesaikan dengan segera. Simpanlah kata-kata indah itu hanya untuk yang berhak menerimanya. Janganlah mudah mengucapkan sesuatu yang tidak berhak untuk di ucapkan dan diberikan kepada yang tidak berhak menerimanya. Cukuplah apa yang kita rasa hanya Allah yang tahu, dan mohonlah kepada Allah kerana hanya Dia yang lebih mengetahui dan memahami tentang apa yang kita rasa.

Cinta yang indah adalah cinta yang tumbuh diatas keta'atan kepada Allah...dan tumbuh di taman yang di kelilingi oleh koridor syariatNya..

Maka pahamilah cinta dengan sebenarnya...

Wallahualam bish shawab

Aku Hanya Ingin Di cintai ALLAH


Ketika semua orang merindu cinta dari orang yang dicintai…

Ketika semua lemah oleh perasaannya sendiri…

Ketika semua takluk oleh cinta yang katanya tak bisa dimengerti…

Masih adakah yang tetap teguh menjaga kesucian hati tanpa terkecuali?

Ketika mereka mengatakan cinta terlalu jauh merasuk ke dalam jiwa..

Hingga mampu menghempaskan perjuangan hati yang akhirnya merana…

Terasa indah dalam pandangan mata…

Bahwa sebenarnya yang mereka rasa adalah dosa…

Masihkah kau merasa berbeza?

Padahal imanmu sudah ternoda…

Padahal singgana hatimu telah dikudeta…

Masih bisa kau katakan bahwa rasa itu kau simpan kerana terpaksa?

Dan untuk dijaga?

Allah…aku hanya tak ingin ikut terjatuh…

Aku hanya tak ingin perjuangan hati ini akhirnya luluh…

Kerana melihat mereka yang akhirnya gugur dalam air yang keruh…

Istiqamah ini terasa sulit…

Ketika malu bukan lagi menjadi ruh hanya terasa di kulit…

Kini yang terjaga pun hanya tinggal sedikit…

Allah…jika cinta memang bisa mengalahkan segalanya…

Maka aku hanya ingin takluk oleh cintaMu saja….

Yang bagiku jauh lebih luar biasa…

Thursday, April 14, 2011

Bahasa Jiwa

hayati dan bermuhasabah diri lah...
Klik untuk mendengar Senandung ini...


Tidak semua manusia mengerti s'gala perasaan yang ada di hati kita
Tidak pula dapat selalu memahami gejolak jiwa yang ada di dalam diri kita

Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu walaupun ia adalah sahabat karibmu sendiri

Kar'na perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah di setiap waktu
Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu
Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu
Janganlah memaksa kar'na saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa

Cukuplah hanya Allah tempat mencurahkan segala isi yang ada di hati kita dan menumpahkan segala perasaan yang ada di jiwa

Tidak semua manusia mengerti s'gala perasaan yang ada di hati kita

Istikharah Cinta



Kata Seorang Sahabat kepada saya : “Saya masih belum berkahwin. Tapi saya berazam untuk berkahwin. Buat masa ini, biarlah saya bercinta dahulu. Tapi saya akan berkahwin nanti. Mungkin bukan sekarang, tapi saya berazam untuk berkahwin juga. Supaya pasangan saya tidak lari, dan supaya dia tahu bahwa saya sangat mencintainya, biarlah kami bercinta dahulu buat masa ini. Tapi kami juga ingin berkahwin, dan kami berazam untuk itu. Tapi mungkin bukan sekarang, insyaAllah nanti…”

Istikharah – bermaksud meminta Allah memberikan ilham, dalam kita membuat pilihan dalam pelbagai perkara dan urusan. Saya percaya, ramai daripada kita yang pernah mendengar perkataan ‘istikharah’ ini dengan membawa maksud ‘istikharah untuk memilih pasangan hidup’, ataupun lebih tepat boleh saya katakan – istikharah cinta.

Saya telah lama tahu tentang istikharah dan solatnya. Pertama kali saya bersolat sunat istikharah adalah ketika saya ingin membuat keputusan untuk belajar di Indonesia. Dan kali keduanya adalah ketika saya mendapat tawaran untuk melanjutkan pelajaran Politik di Indonesia.

Pada hujung bulan Mac yang lalu, pandangan saya tertarik kepada sebuah artikel tentang ‘Istikharah’.

Ia sebenarnya dilakukan bagi menggantikan upacara pada zaman jahiliyyah iaitu meramalkan masa depan berpandukan kepada berhala dan syaitan. Ini bagi mengelakkan golongan tersebut mengambil kesempatan atas kejahilan manusia bahawa kononnya mereka mengetahui masa depan.

Dalam hadis daripada Jabir r.a., beliau berkata bahawa Rasulullah s.a.w. mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan sebagaimana Baginda mengajar kami sesuatu surah daripada al-Quran. Sabda Baginda: Jika salah seorang daripada kamu berkeinginan untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat di luar solat wajib. (Riwayat Bukhari)

Setelah saya ber’istikharah’, saya tidak pula menunggu sehingga datang mimpi tentang pilihan yang ingin saya putuskan. Tiada suatu nas atau dalil yang menyatakan demikian. Namun, itu semua bergantung juga pada kehendak dan kekuasaan Allah untuk setiap hamba-hambaNya yang meminta kepadaNya.


Setelah istikharah, maka saya teguh dengan keputusan saya. Saya percaya kata-kata al-Imam al-Nawawi, seseorang yang melakukan istikharah, maka dadanya akan terbuka luas untuk sesuatu urusan, malah dia akan terlihat kebaikan pada perkara yang akan dilakukan atau sebaliknya. Maka saya teguh meneruskan keputusan yang telah saya pegang, samaada saya berasa senang atau tidak, kerana kebaikan itu pasti ada dalam jiwa ini, meskipun jiwa ini tidak menyenanginya.

Namun, sedar tidak sedar, ada sebuah rahsia rumit disebalik istikharah ini. Apabila seseorang itu meminta agar Allah memberikannya ilham atas keputusan dan pilihannya, maka selepas itu dia berasa begitu yakin, optimis dan pilihannya jitu! Maka tanpa membuang masa, dia terus memulakan langkah pilihannya.

Tapi sedihnya, istikharah itu bukanlah membawa dia ke arah menyempurnakan syari’at ke gerbang perkahwinan, tapi ‘hidayah’ yang dia peroleh membawa dia kearah jalan yang mencatitkan dosa sepanjang perjalanannya. Sehingga sanggup dia bercinta diluar akad yang sah, malah mengisytiharkan bahawa ‘saya kini telah berpunya’!

Sudah tentulah bukan hidayah dan petunjuk Allah yang membawa dia kepada jalan ini, tapi syaitan itulah yang mengilhamkan kepada dirinya. Syari’at istikharah itu indah, tapi pudar kesannya apabila nafsu itu yang menjadi nakhoda iman.

Kalau dilihat pada kata-kata diawal penulisan saya ini, itu bukanlah kata-kata saya. Tapi kata-kata itu saya simpulkan daripada sebuah kebenaran. Fikirkanlah, perkahwinan itu tuntutan syari’at, akad yang sah itu mengikat perhubungan antara fitrah sebuah cinta. Namun, mengapa perlu bercinta diluarnya? Sehingga sanggup mengatakan:

“insyaAllah saya akan berkahwin nanti, buat masa ini biarlah saya bercinta dahulu” – adakah kata-kata ini sudah cukup untuk menyejukkan bahang neraka Allah dan memadamkan nyalaan apinya?

Jangan kita pesongkan cinta itu dengan salutan syari’at yang diputarbelitkan tali-tali syaitan, kerana hebatnya syaitan itu terserlah, janjinya untuk menyesatkan ummah tidak pernah luntur, kerana semakin hampir Qiamat itu mendekati, semakin kuat janjinya termakbul.

Peganglah syari’at itu dan genggamlah seerat-eratnya! Jadikanlah istikharah itu sebagai pedoman untuk memayungi kesucian cinta dibawah lindungan Allah, dan letakkanlah perkahwinan itu sebagai garis mula perjalanan sebuah kemesraan cinta yang hakiki dan abadi

Hati saya tersentuh, bila saya membaca sepotong doa, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari daripada Jabir r.a:

"Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa pilihan ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkatilah aku di dalam pilihan ini. Namun jika Engkau tahu bahwa pilihan ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan pilihan itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan redhailah aku dengan kebaikan itu".

Saya termenung memahami doa ini. Mana tidaknya, sepotong doa ini begitu sempurna untuk menjelaskan ayat Allah, sebuah ayat al-Quran yang sentiasa menemani jalan cinta ini:

"Diwajibkan ke atas kamu berperang, sedangkan berperang itu sesuatu yang kamu benci. Mungkin kamu benci pada sesuatu, sedangkan ia lebih baik bagimu, mungkin juga kamu cintai sesuatu, sedangkan ia mudarat bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak"