Friday, July 8, 2011

Kerana ALLAH aku Menunggumu

Ini bukan sekadar kata-kata agar kamu jatuh hati padaku, namun ini
adalah kejujuranku. Mengapa aku berkata seperti ini? Kerana aku menyukai
orang-orang yang mencintaiNya. ... yang mencintai RasulNya... dan denganmu...
kuharap keteguhanmu akan dapat mengajakku untuk semakin mencintaiNya. ..

Aku merindukanmu kerana Allah

Ini bukan untaian rahsia dalam hatiku untuk memikatmu. Mengapa aku
berkata seperti ini? kerana aku tahu... mengucapkan ikrar suci itu
menyempurnakan hidupku. Dan... Pernikahan adalah sunnah Rasullullah dan
Rasulullah adalah kekasih Allah. Cinta adalah anugerahNya yang ditumbuhkan
di hati orang-orang yang dikehendakiNya. Bagaimana aku tidak merindukan
kehadiranmu wahai kekasih.... to come in my life ???

Aku menunggumu kerana Allah..
ni bukan rajutan perasaan untuk sebuah penantian.
Mengapa aku berkata
seperti ini? Kerana aku tahu, diriku terlalu banyak kekurangan.. . dan
kerananya... aku memerlukan seseorang yang lebih halus untuk menaklukkan hatiku
yang tegas untuk menguatkan hatiku yang lemah dengan izinNya...

Aku tahu... terlalu banyak yang harus aku perbaiki... kerananya, aku menunggumu untuk menjadi pendamping hidupku...... untuk lebih mengajarku dengan
sabar hingga keni'matan imanku terhadapNya semakin dalam dengan
izinNya.... di setiap harinya... untuk selama-lamanya .. Amin...

Aku tahu, dalam hatiku... aku tak ingin hidup sendiri, kerananya, aku
berharap... Allah menganugerahkan padaku seorang teman untuk berkongsi
banyak hal dan menerima apa adanya diriku beserta keluargaku.. .
Kekasih... bila Engkau benar-benar ada dalam hidupku... semoga Allah
memantapkan hati kita dan mendekatkan kita di jalan yang lebih Ia Redhai
Amin...

Aku mencintaimu kerana Allah... aku merindukanmu kerana Allah dan aku
menunggumu kerana Allah... di raga manakah jiwamu bersemayam?? ?

Dari sini aku menatap jejakmu dengan raga yang menari bersama angin...
di antara gemuruh ombak kerinduanku
Rasakan getarku... yang membiarkan selarik bintang menemanimu serta untuk
menjemputku. ..
meski mungkin tak ada peta yang bisa dirimu genggam... izinkan bisik hatiku
sebagai petunjuk arahmu dengan izinNya...
Ya Rabbi... redamkanlah rinduku di jalan yang terbaik menurut Engkau untuk
dunia dan akhiratku.. Amin.... Bila kerabat dan teman tak lagi cukup untuk
menemani kehidupanku. .. maka hari itu adalah yang aku tunggu... apakah
dia, jawaban itu???

Kekasih.... .......
.

Tuesday, April 26, 2011

Kaca Yang Berdebu

Mari Bersama Hayati Senandung ini



Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

Saturday, April 23, 2011

Mari Memahami Cinta Sebenarnya..


Bismillah….

Cinta…

Sesuatu yang tak terdefinisi…

Kadang tak dapat dimengerti…

Tapi mampu membuat bibir seakan tak mau berhenti tersenyum…

Saudaraku…

Apa yang akan kita lakukan ketika cinta datang mengetuk hati kita? Akan ada dua sikap dalam menerima hadirnya cinta.

Pertama, jika cinta itu telah halal, maka tentu akan kita sambut dengan senyuman terindah dan memperlakukannya dengan penuh istimewa. Bagi yang memahami, cinta yang halal hanyalah cinta yang terajut ketika telah terikat dalam sebuah akad pernikahan. Selain daripada itu, maka cinta tak akan pernah di izinkan untuk masuk ke dalam hati dan bersemayam disana.

Kedua, jika cinta itu belum halal, maka dengan santun, kita akan mempersilakan cinta itu untuk bersabar sebelum masuk dan bersemayam di hati kita. Kerana cinta yang belum halal tak akan pernah mendapat ridho dari Allah. Bukankah Allah itu maha pencemburu? Bagi yang tidak mengerti, cinta seperti ini justru akan disambut dengan bahagia hingga akhirnya melupakan batasan-batasan yang sudah ditentukan oleh Allah berkenaan dengan perkara hati. Bukankah cinta seperti ini ertinya sudah bercampur dengan nafsu? Dan bukankah nafsu itu datangnya dari syaitan?

Ada sebuah pertanyaan menarik, bolehkah kita sekedar mengungkapkan cinta demi untuk menenangkan hati kerana tak mampu menahan rasa?

Kembali kita belajar pada cerita cinta Fatimah putri Rasulullah dan Ali bin Abu Thalib. Mereka pun jatuh cinta jauh sebelum akhirnya menikah. Namun, ditengah kegelisahan hati para pencinta, adakah mereka pernah mengungkapkan rasa itu satu sama lain? Tidak, mereka diam. Dalam diam mereka mencinta, dalam rindu mereka berdoa. Hanya kepada Allah mereka ungkapkan semua rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Pun dengan para shalafush shalih ketika mereka di uji dengan cinta oleh Allah. Adapun mereka mengungkapkan cinta, tapi disertai dengan niat untuk menghalalkan cinta itu, jadi bukan sekedar ungkapan biasa tanpa tindakan, atau ada tindakan tapi melanggar syariat. Jika ternyata cinta dan niat mereka ditolak, maka hanya kesabaran yang dapat dilakukan, kerana mengetahui bahwa rencana Allah akan selalu lebih baik.

Kemudian pertanyaan lain, jika sudah dalam masa khitbah misalnya, apakah boleh ungkapan cinta itu disampaikan?

Dalam sirah, hingga detik ini saya belum menemukan adanya contoh, mungkin kerana ilmu ana masih dhoif (atau jika ada yang tahu, tolong beritahu , ^_^ ). Yang jelas, dalam masa khitbah memang adalah masa memantapkan hati, masa lebih saling mengenal pasangan, mulai dari latar belakang, kepribadian hingga keluarga besarnya. Tetapi tetap dalam koridor syariat (saya jadi ingat sebuah cerita bagus ketika hampir masa khitbah, si ikhwan yang tidak bisa menjaga komunikasi dengan akhwat, akhirnya ditolak oleh akhwatnya). Masa khitbah bukanlah masa untuk mengumbar perasaan, maka bersabarlah hingga waktu itu tiba dan berpuaslah jika sudah sah terikat dalam janji pernikahan.

Maka saudaraku, mengumbar perasaan cinta diluar pernikahan adalah sesuatu yang tidak dibenarkan dalam Islam. Seperti yang tertera dalam firman Allah :

“Dan janganlah kamu mendekati zina…” QS Al Isra 32

Mata yang memandang bukan mahram adalam zina mata, telinga yang mendengar rayuan dari bukan mahram adalah zina pendengaran, mulut yang berbicara cinta pada bukan mahramnya adalah zina mulut, sedang hati yang membayangkan sesuatu yang bukan haknya dan tidak halal adalah zina hati.

Satu-satunya solusi bagi para pencinta adalah pernikahan. Diluar daripada itu, maka bersabarlah akan cinta itu, jangan diumbar dan jangan pula diusir jika kita tidak mampu. Tapi berdoalah kepada Allah agar cinta itu tak membuat hati kita lalai dari mencintaiNya. Ungkapan cinta sebelum waktunya tak akan bernilai apa-apa selain dosa, tetapi jika dilakukan dalam pernikahan maka akan bernilai ibadah yang luar biasa.

Maka itu saudaraku, jangan mudah mengumbar kata cinta dengan maksud ataupun hanya sekedar bercanda. Tiap kata-kata kita akan menjadi catatan tersendiri oleh malaikat dan di sisi Allah. Bukankah dalam alqur’an kita diperintahkan hanya berkata-kata yang baik? Sesuatu yang bercanda pun ada batasannya, kerana perkara hati itu sangat mudah terbuka dan akan sulit diselesaikan dengan segera. Simpanlah kata-kata indah itu hanya untuk yang berhak menerimanya. Janganlah mudah mengucapkan sesuatu yang tidak berhak untuk di ucapkan dan diberikan kepada yang tidak berhak menerimanya. Cukuplah apa yang kita rasa hanya Allah yang tahu, dan mohonlah kepada Allah kerana hanya Dia yang lebih mengetahui dan memahami tentang apa yang kita rasa.

Cinta yang indah adalah cinta yang tumbuh diatas keta'atan kepada Allah...dan tumbuh di taman yang di kelilingi oleh koridor syariatNya..

Maka pahamilah cinta dengan sebenarnya...

Wallahualam bish shawab

Aku Hanya Ingin Di cintai ALLAH


Ketika semua orang merindu cinta dari orang yang dicintai…

Ketika semua lemah oleh perasaannya sendiri…

Ketika semua takluk oleh cinta yang katanya tak bisa dimengerti…

Masih adakah yang tetap teguh menjaga kesucian hati tanpa terkecuali?

Ketika mereka mengatakan cinta terlalu jauh merasuk ke dalam jiwa..

Hingga mampu menghempaskan perjuangan hati yang akhirnya merana…

Terasa indah dalam pandangan mata…

Bahwa sebenarnya yang mereka rasa adalah dosa…

Masihkah kau merasa berbeza?

Padahal imanmu sudah ternoda…

Padahal singgana hatimu telah dikudeta…

Masih bisa kau katakan bahwa rasa itu kau simpan kerana terpaksa?

Dan untuk dijaga?

Allah…aku hanya tak ingin ikut terjatuh…

Aku hanya tak ingin perjuangan hati ini akhirnya luluh…

Kerana melihat mereka yang akhirnya gugur dalam air yang keruh…

Istiqamah ini terasa sulit…

Ketika malu bukan lagi menjadi ruh hanya terasa di kulit…

Kini yang terjaga pun hanya tinggal sedikit…

Allah…jika cinta memang bisa mengalahkan segalanya…

Maka aku hanya ingin takluk oleh cintaMu saja….

Yang bagiku jauh lebih luar biasa…

Thursday, April 14, 2011

Bahasa Jiwa

hayati dan bermuhasabah diri lah...
Klik untuk mendengar Senandung ini...


Tidak semua manusia mengerti s'gala perasaan yang ada di hati kita
Tidak pula dapat selalu memahami gejolak jiwa yang ada di dalam diri kita

Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu walaupun ia adalah sahabat karibmu sendiri

Kar'na perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah di setiap waktu
Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu
Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu
Janganlah memaksa kar'na saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa

Cukuplah hanya Allah tempat mencurahkan segala isi yang ada di hati kita dan menumpahkan segala perasaan yang ada di jiwa

Tidak semua manusia mengerti s'gala perasaan yang ada di hati kita

Istikharah Cinta



Kata Seorang Sahabat kepada saya : “Saya masih belum berkahwin. Tapi saya berazam untuk berkahwin. Buat masa ini, biarlah saya bercinta dahulu. Tapi saya akan berkahwin nanti. Mungkin bukan sekarang, tapi saya berazam untuk berkahwin juga. Supaya pasangan saya tidak lari, dan supaya dia tahu bahwa saya sangat mencintainya, biarlah kami bercinta dahulu buat masa ini. Tapi kami juga ingin berkahwin, dan kami berazam untuk itu. Tapi mungkin bukan sekarang, insyaAllah nanti…”

Istikharah – bermaksud meminta Allah memberikan ilham, dalam kita membuat pilihan dalam pelbagai perkara dan urusan. Saya percaya, ramai daripada kita yang pernah mendengar perkataan ‘istikharah’ ini dengan membawa maksud ‘istikharah untuk memilih pasangan hidup’, ataupun lebih tepat boleh saya katakan – istikharah cinta.

Saya telah lama tahu tentang istikharah dan solatnya. Pertama kali saya bersolat sunat istikharah adalah ketika saya ingin membuat keputusan untuk belajar di Indonesia. Dan kali keduanya adalah ketika saya mendapat tawaran untuk melanjutkan pelajaran Politik di Indonesia.

Pada hujung bulan Mac yang lalu, pandangan saya tertarik kepada sebuah artikel tentang ‘Istikharah’.

Ia sebenarnya dilakukan bagi menggantikan upacara pada zaman jahiliyyah iaitu meramalkan masa depan berpandukan kepada berhala dan syaitan. Ini bagi mengelakkan golongan tersebut mengambil kesempatan atas kejahilan manusia bahawa kononnya mereka mengetahui masa depan.

Dalam hadis daripada Jabir r.a., beliau berkata bahawa Rasulullah s.a.w. mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan sebagaimana Baginda mengajar kami sesuatu surah daripada al-Quran. Sabda Baginda: Jika salah seorang daripada kamu berkeinginan untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat di luar solat wajib. (Riwayat Bukhari)

Setelah saya ber’istikharah’, saya tidak pula menunggu sehingga datang mimpi tentang pilihan yang ingin saya putuskan. Tiada suatu nas atau dalil yang menyatakan demikian. Namun, itu semua bergantung juga pada kehendak dan kekuasaan Allah untuk setiap hamba-hambaNya yang meminta kepadaNya.


Setelah istikharah, maka saya teguh dengan keputusan saya. Saya percaya kata-kata al-Imam al-Nawawi, seseorang yang melakukan istikharah, maka dadanya akan terbuka luas untuk sesuatu urusan, malah dia akan terlihat kebaikan pada perkara yang akan dilakukan atau sebaliknya. Maka saya teguh meneruskan keputusan yang telah saya pegang, samaada saya berasa senang atau tidak, kerana kebaikan itu pasti ada dalam jiwa ini, meskipun jiwa ini tidak menyenanginya.

Namun, sedar tidak sedar, ada sebuah rahsia rumit disebalik istikharah ini. Apabila seseorang itu meminta agar Allah memberikannya ilham atas keputusan dan pilihannya, maka selepas itu dia berasa begitu yakin, optimis dan pilihannya jitu! Maka tanpa membuang masa, dia terus memulakan langkah pilihannya.

Tapi sedihnya, istikharah itu bukanlah membawa dia ke arah menyempurnakan syari’at ke gerbang perkahwinan, tapi ‘hidayah’ yang dia peroleh membawa dia kearah jalan yang mencatitkan dosa sepanjang perjalanannya. Sehingga sanggup dia bercinta diluar akad yang sah, malah mengisytiharkan bahawa ‘saya kini telah berpunya’!

Sudah tentulah bukan hidayah dan petunjuk Allah yang membawa dia kepada jalan ini, tapi syaitan itulah yang mengilhamkan kepada dirinya. Syari’at istikharah itu indah, tapi pudar kesannya apabila nafsu itu yang menjadi nakhoda iman.

Kalau dilihat pada kata-kata diawal penulisan saya ini, itu bukanlah kata-kata saya. Tapi kata-kata itu saya simpulkan daripada sebuah kebenaran. Fikirkanlah, perkahwinan itu tuntutan syari’at, akad yang sah itu mengikat perhubungan antara fitrah sebuah cinta. Namun, mengapa perlu bercinta diluarnya? Sehingga sanggup mengatakan:

“insyaAllah saya akan berkahwin nanti, buat masa ini biarlah saya bercinta dahulu” – adakah kata-kata ini sudah cukup untuk menyejukkan bahang neraka Allah dan memadamkan nyalaan apinya?

Jangan kita pesongkan cinta itu dengan salutan syari’at yang diputarbelitkan tali-tali syaitan, kerana hebatnya syaitan itu terserlah, janjinya untuk menyesatkan ummah tidak pernah luntur, kerana semakin hampir Qiamat itu mendekati, semakin kuat janjinya termakbul.

Peganglah syari’at itu dan genggamlah seerat-eratnya! Jadikanlah istikharah itu sebagai pedoman untuk memayungi kesucian cinta dibawah lindungan Allah, dan letakkanlah perkahwinan itu sebagai garis mula perjalanan sebuah kemesraan cinta yang hakiki dan abadi

Hati saya tersentuh, bila saya membaca sepotong doa, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari daripada Jabir r.a:

"Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa pilihan ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkatilah aku di dalam pilihan ini. Namun jika Engkau tahu bahwa pilihan ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan pilihan itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan redhailah aku dengan kebaikan itu".

Saya termenung memahami doa ini. Mana tidaknya, sepotong doa ini begitu sempurna untuk menjelaskan ayat Allah, sebuah ayat al-Quran yang sentiasa menemani jalan cinta ini:

"Diwajibkan ke atas kamu berperang, sedangkan berperang itu sesuatu yang kamu benci. Mungkin kamu benci pada sesuatu, sedangkan ia lebih baik bagimu, mungkin juga kamu cintai sesuatu, sedangkan ia mudarat bagimu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak"

Muhasabah



Kehidupan bagaikan pelangi...namun ada masanya ia bagaikan senja yg hanya ada warna merah jingga yang memuramkan...

Di dalam menempuh jalan hidup janganlah mencuba jauh dari Tuhan, sebab kehidupan kita yang sebenarnya terletak ditanganNya. Betapa pun kita memegang kemudi bahtera menuju pelabuhan yang dicita-citakan, namun yang menentukan arah angin adalah Dia.

Peringatan Hari Nakbah Palestin 15 Mei


Apa itu Nakbah?

NAKBAH bermaksud MALAPETAKA atau BENCANA BESAR. Manakala Nakbah Palestin merujuk kepada pengisytiharan Negara Haram Israel yang telah diistiharkan secara rasminya pada 15hb Mei 1948. Peristiwa ini berlaku selepas terlaksananya pendudukan dan penjajahan haram oleh rejim Yahudi Zionis ke atas tanah dan penduduk asal Palestin secara sistematik dengan bantuan British dan PBB.

Apa kesan awal utama Nakbah ?

1. Nakbah menyebabkan hilangnya negara Palestin daripada peta dunia antarabangsa.
2. Lebih daripada 60 peratus rakyat Palestin (800 ribu orang daripada 1.4 juta) diusir ke luar negara dan 30 ribu lagi diusir ke daerah-daerah yang ditakluki mereka.
3. 478 daripada 580 perkampungan rakyat Palestin yang wujud sebelum perang 1948 telah dihancurkan yang melibatkan lebih 34 jenayah pembunuhan beramai-ramai rakyat Palestin.

Di manakah testimoni Nakbah?

Terlalu ramai dan banyak…..

Arafat Hijazi, salah seorang saksi yang masih hidup menceritakan, “Saya melihat seorang tentera pengganas Zionis memegang saudara saya, Saliha al-Halabi yang hamil 9 bulan. Dia meletakkan senapangnya di leher Saliha lalu memuntahkan peluru sehingga Saliha terbunuh. Pengganas Zionis tersebut mengambil sebilah pisau lalu membelah perutnya sehingga terburai, kemudian mengeluarkan anak Saliha yang telah mati dengan pisau Nazinya yang mengerikan itu”.

Kem Pelarian Nahrul Barid, Lubnan 1948



Apakah realitinya setelah 63 tahun Nakbah?

1. Penjajahan dan penindasan yang berterusan sehingga mereka berjaya merampas lebih daripada 90% dari keseluruhan bumi Palestin.

2. Melakukan penangkapan dan pemenjaraan orang-orang Palestin yang tidak bersalah sehingga lebih daripada 12 ribu di kalangan mereka kini merengkok di dalam penjara Israel.

3. Sekatan ekonomi yang dirancang kemas sehingga orang-orang Palestin tersepit, menganggur dan dibelenggu kemiskinan serta kebuluran.

4. Anak-anak Palestin yang telah dinafikan hak untuk belajar sehinggakan jumlah mereka yang sempat ke pengajian menengah adalah dari peratusan yang sangat kecil.

5. Rejim Zionis tanpa malu dan segan telah membina tembok pemisah gergasi yang terpanjang di dunia yang menyekat penghidupan rakyat Palestin serta menjadikan Palestin sebagai penjara yang terbesar di dunia.

6. Seramai 6.45 juta di kalangan rakyat Palestin adalah pelarian yang hidup dengan penuh kedaifan sejak 62 tahun yang lalu. Inilah kes pelarian yang paling lama dan perit di dalam sejarah peradaban dunia.

7. Pembunuhan dan penyiksaan yang berterusan terutamanya di Gaza yang merupakan krisis kemanusiaan terhebat di abad ini.

8. Peningkatan serangan ke atas al-Quds oleh ekstremis Zionis yang mencabul kehormatan dan kesucian al-Quds serta projek pembinaan kuil Yahudi di perkarangan Al-Aqsa.



Apakah rancangan jangkamasa panjang mereka?

1. PengYahudian Baitul Maqdis dan pembinaan Kuil Yahudi ’The Solomon Temple’.
2. Pembinaan Israel Raya atau ’The Greater Israel’.
3. Menguasai dunia antarabangsa keseluruhannya.

Synagogue Yahudi yang baru dirasmikan, jaraknya 100 meter dari Qubbatus Sahra

Apakah mereka akan berjaya di dalam cita-cita ini?

Tidak

Apakah bukti-bukti kegagalan mereka ?

1. Kegagalan mereka untuk membina ’The Greater Israel’ walaupun setelah sekian lama mereka menjajah Palestin.
2. Gaza kembali ke tangan Palestin dan Golan Height pula ke tangan Syria.
3. Intifadhah menyebabkan merudumnya ekonomi Israel dan hilangnya ’rasa selamat’ di kalangan orang-orang Israel.
4. Penghijrahan lebih 700 ribu orang-orang Israel yang melarikan diri pulang ke negara-negara Barat sejak tahun 2000 lagi.
5. Generasi muda Yahudi mereka tidak berminat untuk mempertahankan agenda Zionis.
6. Gagalnya regim Zionis dengan sokongan penduduk seramai 5 juta orang dan Amerika sekutunya untuk mengalahkan Gaza yang hanya mempunyai seramai 1.5 juta penduduk.
7. Perjuangan umat Islam yang semakin kuat dan mendapat tempat di kalangan oarng-orang Palestin, bangsa Arab dan umat Islam di seantero dunia.
8. Dan tentunya disebabkan janji-janji Allah dan Rasulullah s.a.w.

Perjuangan sudah sebati dengan kehidupan rakyat Palestin

Apakah cara terbaik untuk memenangi kembali Palestin dan al-Aqsa?

Tidak boleh tidak, kita mesti mencontohi perjuangan generasi silam seumpama mencontohi kejayaan generasi Solahuddin al-Ayyubi dengan…

1. Menjadikan matlamat perjuangan adalah untuk menegakkan kalimah Allah swt.
2. Membina generasi yang bertaqwa kepada Allah dan memelihara diri daripada maksiat.
3. Membuat persediaan perjuangan yang sempurna dan amat mengambil berat terhadap isu pembebasan Al-Aqsa
4. Menyatukan kekuatan umat di bawah sistem yang satu.
5. Menjadikan isu pembebasan Al-Quds sebagai isu Aqidah dan isu umat Islam.

Marilah kita bersama-sama merenung kembali ayat Al-Quran:

“Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah bersedih, kerana sesungguhnya kamu adalah lebih tinggi martabat daripada mereka sekiranya kamu beriman.” (Surah Ali Imran: 139)

Semoga kita bertemu di Baitul Maqdis
KLIK UNTUK LIHAT VIDEO..

Wednesday, February 23, 2011

Hari Ini Milik Kita


Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita, dan siangnya menyapa kita inilah hari kita.

Umur kita, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup kita hanya hari ini, atau seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup kita tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.
Pada hari ini pula, sebaiknya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, kita harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.

Pada hari dimana kita hidup saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. menjadikan setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan. Menanam kebaikan sebanyakbanyaknya pada hari itu. Dan, mempersembahkan sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan kita hari dengan penuh keredhaan.
{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.} (QS. Al-A’raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat (bila perlu kita tulis pula di atas meja kerja kita): Harimu adalah hari ini. Yakni, bila hari ini kita dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan kita? Jika kita dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa kita harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat kita akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Dan itu, akan membuat kita berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan kotor yang menjijikkan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan keburukan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semrawut dan berantakan. Dan kerana hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak tandukku.”

Kerana hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat. Aku hanya akan hidup hari ini, kerananya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang tersesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu yang orang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua pergi dan tak pernah kembali lagi.”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, kerana esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”

“Hari ini milik kita”, adalah ungkapan yang paling indah dalam “kamus kebahagiaan”. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.

Dioalah dan penambahan terjemahan dari 33 sebab kebahagiaan karya: DR. Aidl Al Qarni

Saturday, February 5, 2011

Semakin Dilihat Semakin Jauh


Selimut malam tersingkap perlahan, sambut pagi cerahkan hari yang kelabu, memikul nestapa yang tiada berepisod, merangkai tanya yang tak terjamah jawapan, diri yang kelana bersejadah kusam, iringi zikir dengan lonceng cengkerik malam, mengayuh harap menembus batas alam, walau damai enggan berpihak lantaran jiwa terkalam pilu dalam nuansa yang semakin gelap.

Kupandang langit yang tak terbatas, semakin dipandang semakin tak terpandang. Kujalani hidup dengan kehendak yang ada, semakin kujalani semakin tak berkehendak.

Terjagalah jiwa dalam irama kesedaran, ternyata aku salah memahami cinta, aku keliru menyandarkan jiwa.

Ya Rabbi... ajari aku tentang Cinta dengan Cinta.

Aku paham. Aku tak mungkin mengerti kerana Cinta tak dapat di mengerti, banyak manusia merasa mengerti, semakin merasa semakin tak mengerti. Diantara mereka ada yang mengatas namakan cinta lalu membangun rumah tangga diatas cinta, namun kemudian mereka berkelahi, bergaduh dan saling menyakiti. Kemana kini perginya Cinta..?

Sibuta bertongkat menyisir jalan, lanjutkan perjuangan atas nama cinta, olehnya itu dia mengemis, mendandani dirinya sebagai manusia yang pantas di kasihani, merendah dan menggadai harga diri. Ia telah membinasakan esensi (inti ) Cinta dalam dirinya lalu berharap akan diberikan Cinta. Adakah perbezaan Cinta dalam dirinya dengan yang Ia harapkan.? Bukankah Cinta adalah Cinta,,?

Cahaya mentari hangatkan bumi, hangatkan juga negeriku yang kelabu, lantaran rakyat ingin menjadi raja, lalu mengutuk, menghujat dan tak lagi percaya pada pemimpinnya, lantaran pemimpin tak pandai memahami cinta di hati rakyat.

Kami bukanlah sekedar rakyat, tapi kami adalah kedaulatan. Kami juga bukan sekedar kumpulan manusia, tapi kami adalah esensi sebuah bangsa, kami adalah pertikel-pertikel energi yang membentuk dimensi wajah bangsa dalam substansi Malaysia Surgawi.

Saudaraku... Aku ingin berbisik, mungkin itu lebih membuatmu mendengar kerana aku bersuara dalam kelembutan. Lihatlah, betapa diluar sana mereka bersuara dalam semangat yang berapi-api tapi suara mereka tak didengar. Mereka mungkin harus berbisik tapi mereka tidak percaya kerana bagi mereka kerasnya suara, menggelegarnya nada bicara, itu adalah kekuatan. Pahamkah mereka kalau itu bukanlah kekuatan.? Kerana kekuatan itu ada dalam Cinta, dan Cinta itu mengalir dalam irama kelembutan.

Sahabat ceriaku bertanya padaku di nuansa Facebook ; ” Aku tak mengerti dengan Cinta, aku jalani saja, bahkan aku menikahpun kerana aku fikirkan dia calon yang tepat”

Bagus, bisik saya.. Cinta memang tidak untuk dimengerti kerana memang tak sanggup untuk dimengerti, Cinta cukup dirasakan lalu dijalani dengan hati. Pandanglah langit, seperti itulah melihat Cinta, semakin tak terpahami. Lalu jalanilah hidupmu, mengertikah kamu dengan hidupmu? Kamu merasakan hidupmu tapi tidak mengerti dengan hidupmu, Itulah Cinta, rasakan dan jalani seperti air mengalir. Adam merasa memahami cinta olehnya Ia pun terusir dari surga lalu menempati bumi, Iblis sang spiritual sejati, paling dekat dengan sumber Cinta Sejati, kerana merasa mengenal Cinta akhirnya Ia berpendapat atas nama Cinta yang membuatnya dikutuk, dilaknat dan tidak memiliki rasa sedikitpun tentang Cinta

”Terus bagaimana agar aku mengerti tentang Cinta..?”

Cinta adalah cinta, kerana hakikatnya adalah Cinta, tidak tersentuh oleh sebutir pertikel kebencian sedikitpun, Ia bersumber dari yang maha Cinta tapi tidak terpisahkan dari sumbernya, Ia adalah esensi dari keberadaan, Ia adalah makna penciptaan alam semesta ini, jika demikian Cinta adalah Kesejatian, dan dibahasakan oleh manusia utusan langit (nabi dan rasul) sebagai Tuhan.

”Saya selalu menempatkan ALLAH sebagai nombor satu,” Respon sahabat saya.

Tanpa nombor satu, ALLAH tetaplah satu, olehnya jangan diberi nombor, kerana bertendensi pada urutan nombor yang lainnya. Tuhan tidak boleh disejajarkan walau dengan nombor yang teratas sekalipun. Olehnya jalanilah hidupmu dengan hati, mengalir dalam irama alam, maka kamu akan merasakan Cinta.

Suatu hari plato bertanya pada gurunya Socrates

”Guru ajari saya Cinta.”

Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk mencari sebatang ranting yang dianggap paling lurus, tapi ingat syaratnya adalah ; ”satu kali memilih dan jangan kembali pada pilihan yang lalu.”

Plato menelusuri hutan dan mencuba mencari ranting kayu yang dianggap lurus. Pertama dia menemukan sebuah ranting yang pas dihatinya, tetapi kemudian dia membuangnya kerana berfikir masih akan ada ranting-ranting didepan sana yang lebih baik dan lurus, dan juga kerana hutan yang masih begitu luas. Semakin jauh plato berjalan Ia hanya mengulang adegan yang sama seperti ranting yang pertama kali Ia temukan, Ia pun kembali ke gurunya dengan tidak membawa sebatang rantingpun.

Didepan gurunya Ia menuturkan kalau Ia tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya plato sudah mendapati beberapa ranting yang menurutnya lurus, tetapi Ia berfikir masih akan ada ranting lain yang lebih baik didepan, dan ketika Ia sampai pada batas hutan Ia baru menyadari kalau Ia tidak menemukan apa-apa, Ia teringat dengan beberapa ranting sebelumnya yang pas dihatinya maka terlintas keinginan untuk kembali kebelakang dan mengambilnya, akan tetapi Ia teringat pesanan gurunya ” Jangan kembali pada pilihan yang lalu” yakni pilihan yang sudah terlewatkan. Gurunya pun bertutur ;

Guru :
Itulah Cinta. Seharusnya kamu tempatkan Cinta dihatimu untuk kamu rasakan, akan tetapi kamu menempatkannya pada nalar logikamu, olehnya kamu tidak menemukan apa-apa.”

Realitinya adalah, betapa manusia terlalu memilih pada sisi nalar sehingga waktu mereka habis hanya untuk membandingkan segala sesuatu tanpa pernah berhenti untuk merasakan sesaat akan suatu keadaan dengan suka cita, selanjutnya merekapun luput dari keinginan berterimakasih pada alam semesta.

Disisi lain, manusia dalam mencari pasangan hidupnya terlalu terobsesi pada standar-standar ketetapan yang diciptakan oleh alam pikirnya yang lahir dari interaksi indra dan egosentris dan membuat manusia lebih banyak memilih dan memilah namun sedikit dalam rasa, akhirnya banyak yang tidak menemukan pasangan hidupnya. Jika sudah diambang batas usia, merekapun semakin gelisah. Lantas haruskah mereka meraih sembarang ranting yang ada?

Pada sebuah kesempatan yang lain, Plato kembali bertanya pada gurunya ;
”Guru, Ajari saya tentang perkahwinan.”

Sang guru lantas menyuruhnya pergi kedalam hutan untuk menemukan sebuah pohon yang dianggap paling rendang dan lebat, syaratnya adalah sama dengan ketika Plato mencari ranting yang lurus.

Plato menelusuri hutan dan mencuba mencari pohon yang paling lebat dan rendang menurutnya. Setelah menemukan sebatang pohon yang pas dihatinya Ia pun kembali menghadap gurunya. Ia menyampaikan kalau Ia sudah menemukan pohon yang rendang dan lebat, akan tetapi ada yang aneh dalam perjalanan pulang, yakni plato melihat beberapa pohon lainnya yang ternyata lebih lebat, lebih rendang dan lebih indah dari pilihan dia sebelumnya, terlintas keinginan untuk merubah pilihannya akan tetapi Ia teringat akan pesan gurunya yakni ; ”hanya satu kali memilih”, gurunyapun bertutur ;

Guru :
Itulah perkahwinan, seharusnya kamu menjalankannya dengan hati sehingga dapat merasakan makna dari perkahwinan, tetapi kamu menjalankannya denga logika pikiranmu, olehnya kamu sibuk membandingkan apa yang kamu miliki dengan berbagai hal diluar sana termasuk pasangan hidupmu.

Realitinya adalah betapa manusia menjalani hidup yang dikendalikan oleh akal pikiran yang terproses dari interaksi indrawi, maka lahirlah perbandingan akan apa yang ada pada pasangan hidupnya dengan yang ada pada peribadi yang lain, ini adalah sebagian dari sebuah awal akan lahirnya berbagai kegagalan dalam rumah tangga, yang umumnya berdalil pada alasan semu dan naif ”Ketidak-Sesuaian”.

Tidak sesuai hadir kerana proses logika dan nalar, sementara hati adalah sumber tautan Cinta dari sumber Cinta sejati. Hati yang tercahayakan akan merespon segala sesuatu dengan kesejukan dan bermuara pada kedamaian.

Nalar merespon segala sesuatu dengan ukuran dan bermuara pada perbezaan, perbezaan inilah yang tidak boleh direspon oleh hati kerana hati telah karam dalam kegelapan, hati yang tidak pernah diasah atau diarahkan untuk menemukan cahayanya.

Saudaraku.. masih dengarkah kamu dengan bisikanku..? bertanyalah jikalau memang harus bertanya, tetapi bertanyalah untuk memahami dan saling mengisi, dan jangan pernah bertanya dalam jawaban.

Sohibku, ketika sehelai daun kering terpisah dari ranting, ia pun jatuh ketanah dalam suka cita yang abadi, kejatuhannya bahkan dicatat dalam buku catatan Ilahi kerana terjadi atas kehendak Tuhan, ia jatuh kerana ia telah selesai menjalankan tugasnya dalam merespon cahaya matahari, ia harus kembali menuju ketiadaan, alam akan membentuknya (menjadi sampah menurut logika) dan meresapkannya kedalam tanah menjadi pupuk lalu ia ditarik oleh akar-akar kehidupan untuk melahirkan sebuah karya cipta yang lebih indah dalam nuansa Maha Karya, ia mempunyai kesempatan untuk bersemi dengan setiap pertikel-pertikelnya, boleh sebagai kuntum bunga nan indah sehingga sarinya mengundang lebah, lalu bersama lebah ia pun menjadi madu surgawi, kemanakah semuanya bermuara? Pahamkah kita akan segala prosesnya? Mengertikah kita jika semua ini kerana Cinta adanya dan bermuara pada tugas melayani manusia dengan segala kebutuhannya. Kerana manusia adalah esensi dari kesempurnaan alam semesta.

Jika semua dapat dipahami dengan bijak, maka manusia akan lebih memilih diam. Dan dalam diamnya Ia memahami Cinta yang sesunguhnya, Ia pun akan kehilangan akal dan nalar, lalu kehilangan dirinya sendiri, Ia sudah menjadi cinta itu sendiri. Ia bahkan tidak berhasrat melihat ke negeri surga, kerana apa yang Ia lakukan adalah kerana Cinta sang Sejati, namun jika masih ada manusia yang dibakar di neraka, Ia mau menggantikan posisinya dengan alasan Cinta yang kerana Cinta adanya.

Ia bukanlah perindu surgawi yang letaknya dibawah telapak kaki wanita, Kerana Ia telah menjadi sebab manusia berhijrah ke surga.

Ia bicara tanpa suara, Ia berjalan tanpa jejak, Ia tersenyum tanpa riwayat.

Dan kini Ia telah memindahkan surga dari telapak kaki wanita-wanita yang tak memahami hakikat hidup, jika semua wanita di bumi suda tidak memahami hakikat hidup maka tak tersisa satupun pintu surga, lantaran surga dibangun dari lentik lembut bulu mata wanita yang merekah cemerlang dalam tatapan halus nan tulus, lalu mengukir senyuman penuh gelora dan menembus seribu batas kepenatan.

Pahamkah kita dengan makhluk yang bernama wanita ? Dia lah pemilik sifat Tuhan secara syariat dan hakikat, kerana rahimnya bumi ini berotasi dalam Cinta. Pujangga sejagad memahat hatinya dalam bait cerita kehidupan, kerana kehidupan tak akan hidup tanpa desah nafas wanita.

Bumi bernafas dengan nafas wanita, olehnya bumi kuat dalam sabar, juga subur dalam Cinta, taburlah apapun di bumi maka ia akan tumbuh, walaupun batu karang yang terpasak, bumi memolesnya menjadi gunung.

Bumi berputar seirama detak nadi wanita, dalam detak nadi wanita ada makna Cinta yang terpatri, oleh kerana itu bumi adalah Ibu bagi apapun diatasnya sebagaimana wanita menjadi Ibu dari apapun bentuk dan warna karakter manusia.

Demikian wanita, yang padanya tertitip keindahan tubuh nan gemulai dibaliknya ada Cahaya Ilahi, sehingga wajib untuk ditutupi lalu diberi nama aurat. Demikian adanya bumi yang molek dan indah diselimuti energi cinta yang diberi nama Ozon. Jadilah manusia makna bumi seperti yang terpahat dalam syair-syair Zarathustra, manusia makna bumi adalah manusia yang penuh kelembutan dalam keperkasaan yang bijaksana. Manusia yang memahami visi hidup yang sesunguhnya.

Akhirnya, jika sampai pada ambang batas pemikiran, maka semuanya akan menyadari tentang keberadaannya untuk mengarungi arah yang telah ditentukan.

Mengalirlah seperti sungai menuju muara dan menyatu kedalam lautan Cinta yang abadi, kerana asal sungai adalah lautan.

Sanggupkah kamu melihat perbezaan antara sungai dan lautan jika telah menyatu.? Itulah Cinta yang sesungguhnya. Wassalam..